Ni Ketut Budiartini
3PA01/14510946
PSIKOTERAPI
Teori Humanistik Eksistensial
1. Teori Abraham Maslow
Eksistensialisme sangat menekankan pada anggapan bahwa manusia memiliki kebebasan dan bertanggung jawab bagi tindakan-tindakannya, maka pandangan-pandangan eksistensialisme menarik bagi para ahli psikologi humanistik dan selanjutnya dijadikan landasan teori psikologi humanistik. Adapun pokok-pokok teori psikologi humanistik yang dikembangkan oleh Maslow adalah sebagai berikut (Koeswara, 19991 :.112-118 dan Alwisol 2005 : 252-270)
1) Prinsip holistik
Menurut Maslow, holisme menegaskan bahwa organisme selalu bertingkah laku sebagai kesatuan yang utuh, bukan sebagai rangkaian bagian atau komponen yang berbeda. Jiwa dan tubuh bukan dua unsur yang terpisah tetapi bagian dari suatu kesatuan, dan apa yang terjadi pada bagian yang satu akan mempengaruhi bagian yang lain. Pandangan holistik dalam kepribadian, yang terpenting adalah :
a. Kepribadian normal ditandai dengan unitas, integrasi, konsistensi, dan koherensi.Organisasi adalah keadaan normal dan disorganisasai adalah keadaan patologis (sakit).
b. Organisme dapat dianalisis dengan membedakan tiap bagiannya, tetapi tidak ada bagian yang dapat dipelajari dalam isolasi.
c. Organisme memiliki suatu dorongan yang berkuasa, yaitu aktualisasi diri.
d. Pengaruh lingkungan eksternal pada perkembangan normal bersifat minimal. Potensi organisme jika bisa terkuak di lingkungan yang tepat akan menghasilkan kepribadian yang sehat dan integral.
e. Penelitian yang komprehensif terhadap satu orang lebih berguna dari pada penelitian ekstensif terhadap banyak orang mengenai fungsi psikologis yang diisolasi.
2) Individu adalah penentu bagi tingkah laku dan pengalamannya sendiri. Manusia adalah agen yang sada, bebas memilih atau menentukan setiap tindakannya. Dengan kata lain manusia adalah makhluk yang bebas dan bertanggung jawab.
3) Manusia tidak pernah diam, tetapi selalu dalam proses untuk menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya (becoming). Namun demikian perubahan tersebut membutuhkan persyaratan, yaitu adanya lingkungan yang bersifat mendukung.
4) Individu sebagai keseluruhan yang integral, khas, dan terorganisasi.
5) Manusia pada dasarnya memiliki pembawaan yang baik atau tepatnya netral. Kekuatan jahat atau merusak pada diri manusia merupakan hasil atau pengaruh dari lingkungan yang buruk, dan bukan merupakan bawaan.
6) Manusia memiliki potensi kreatif yang mengarahkan manusia kepada pengekspresian dirinya menjadi orang yang memiliki kemampuan atau keistimewaan dalam bidang tertentu.
7) Self-fulfillment merupakan tema utama dalam hidup manusia.
8) Manusia memiliki bermacam-macam kebutuhan yang secara hirarki dibedakan menjadi sebagai berikut (Boeree, 2004)
a. kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological needs)
b. kebutuhan akan rasa aman (the safety and security needs)
c. kebutuhan akan cinta dan memiliki (the love and belonging needs)
d. kebutuhan akan harga diri (the esteem needs)
e. kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)
Konsep Utama Pendekatan Humanistik Eksistensial
1. Kesadaran diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri,suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Kesadaran diri membedakan manusia dengan mahluk-mahluk lain. Pada hakikatnya semakin tinggi kesadaran seseorang, semakin ia hidup sebagai pribadi. Meningkatkan kesadaran berarti meningkatkan kesanggupan seseorang untuk mengalami hidup secara penuh sebagai manusia.Peningkatan kesadaran diri yang mencakup kesadaran atas alternatif-alternatif, motivasi-motivasi, faktor-faktor yang membentuk pribadi, dan atas tujuan-tujuan pribadi, adalah tujuan segenap konseling. Kesadaran diri banyak terdapat pada akar kesanggupan manusia, maka putusan untuk meningkatkan kesadaran diri adalah fundamental bagi pertumbuhan manusia.
2. Kebebasan tanggung jawab, kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tangung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar bagi manusia. Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia yang mana merupakan sesuatu yang patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk pertumbuhan kepribadian.
3. Penciptaan makna
Manusia itu unik, dalam arti bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Manusia pada dasarnya selalu dalam pencarian makna dan identitas diri. Manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk yang rasional.
Tujuan-tujuan Terapeutik
1. Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi dasar atas
keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan
bertindak berdasarkan kemampuannya.
2. Meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihan
nya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
3. Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan
memilih diri, dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban
kekuatan-kekuatan deterministik diluar dirinya.
Fungsi dan Peran Terapis
Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
1. Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
2. Menyadari peran dari tanggung jawab terapis
3. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik
4. Berorientasi pada pertumbuhan
5. Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi
6. Mengakui bahwa putusan dan pilihan akhir terletak ditangan klien.
7. Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya
Hidup dan pandangan humanistiknyatentang manusia secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif
8. Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk
Mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
9. Bekerja ke arah mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan
Kebebasan klien.
Teknik Terapi
Teori humanistik eksistensial tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur konseling bisa dipungut dari beberapa teori konseling lainnya separti teoriGestalt dan Analisis Transaksional. Tugas konselor disini adalah menyadarkan konseli bahwa ia masih ada di dunia ini dan hidupnya dapat bermakna apabila ia memaknainya.
Minggu, 24 Maret 2013
Minggu, 17 Maret 2013
Teknik Terapi Psikoanalisis
mata kuliah : psikoterapi
1. Pengertian Terapi Psikoanalisis
Adalah teknik atau metoda pengobatan yang dilakukan oleh terapis dengan cara menggali permasalahan dan pengalaman yang direpresnya selama masa kecil serta memunculkan dorongan-dorongan yang tidak disadarinya selama ini. Psikoanalisa sendiri dipelopori oleh tokoh psikologi yang terkenal yaitu Sigmund Freud. Seperti konsep psikoanalisa Sigmund Freud, terapi dengan metode ini juga mempunyai konsep yang didasari oleh struktur kepribadian dasar manusia yaitu id, ego, dan super ego. Metode ini sendiri merupakan upaya perawatan terhadap perilaku abnormal atau gangguan dengan cara mengidentifikasikan penyebab-penyebab ‘tak sadar’ dari perilaku atau gangguan yang terjadi (diderita klien). Hal ini sangat berkaitan dengan konsep struktur pikiran yang diungkapkan oleh Freud. Freud mengungkapkan bahwa penyebab ‘tak sadar’ itu merupakan konflik yang disebabkan adanya kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan dalam diri tiap individu dan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian individu sehingga menimbulkan stres dalam kehidupan.
Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengubah kesadaran individu, sehingga segala sumber permasalahan yang ada didalam diri individu yang semulanya tidak sadar menjadi sadar, serta memperkuat ego individu untuk dapat menghadapi kehidupan yang realita.
Didalam terapi psikoanalisis ini sangat dibutuhkan sifat dari terapeutik, maksudnya adalah adanya hubungan interpersonal dan kerja sama yang professional antara terapis dan klien, terapis harus bisa menjaga hubungan ini agar klien dapat merasakan kenyamanan, ketenangan dan bisa rileks menceritakan permasalahan serta tujuannya untuk menemui terapis. Karena focus utama dalam proses terapi ini adalah menggali seluruh informasi permasalahan dan menganalisis setiap kata-kata yang diungkapkan oleh klien.
2. Konsep-konsep Terapi Psikoanalisis
Anxiety/Kecemasan
• Anxiety realita
Adalah rasa takut akan bahaya dari dunia luar dimana individu tidak dapat menerima kenyataan.
• Anxiety neurotic
Adalah rasa takut yang muncul ketika insting tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan seseorang melakukan sesuatu yang nantinya akan mendapat hukuman
• Anxiety moral
Adalah rasa takut yang muncul pada orang-orang yang memilki superego yang tinggi, orang-orang dengan perkembangan moral yang baik akan merasa berdosa ketika merka melakukan suatu hal yang bertentangan dengaan nilai moral.
Struktur Kepribadian
• Id
Id (berkembang sejak lahir hingga usia dua tahun) merupakan lapisan psikis yang paling dasar di mana cinta dan kematian berkuasa. Id bersifat primitif, tidak terkendali, dan emosional: “sebuah dunia yang tidak logis”. Naluri bawaan seperti seks, agresif, dan keinginan-keinginan yang direpresi berada di sini. Prinsip kesenangan mendominasi bagian ini sedangkan ruang, waktu, beserta logika yang berkenaan dengan hukum kontradiksi tidak berlaku. Dalam Id energi dipergunakan untuk memuaskan naluri melalui tindakan refleksi dan pemuasan keinginan segera. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)
Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.
• Ego
Ego (berkembang sejak berusia dua tahun) beraktivitas di semua lapisan; bersifat sadar manakala melakukan aktivitas sadar seperti persepsi lahiriah, persepsi batiniah, dan proses-proses intelektual; berlaku prasadar saat melakukan fungsi ingatan; dan aktivitas tak sadar Ego dijalankan dengan mekanisme pertahanan (defence mechanisms). Mekanisme pertahanan diri dapat dilakukan dengan cara sublimasi (misalnya mengatasi stres dengan melukis atau olah raga), represi, regresi, fiksasi, identifikasi, proyeksi, penolakan, dan pengalihan (displacement). Mempertahankan keutuhan kepribadian dan adaptasi dengan lingkungan melalui prinsip realitas adalah peran utama Ego. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)
• Superego
Superego (berkembang saat berusia tiga tahun dan dipengaruhi orang tua) dibentuk melalui internalisasi larangan atau perintah yang berasal dari luar hingga menjadi sesuatu yang menjadi milik subjek sendiri. Aktivitas Superego sebagai dasar hati nurani saat menyatakan diri dalam konflik dengan Ego yang dirasakan dalam emosi seperti rasa bersalah, menyesal, dan sebagainya. Termasuk di sini observasi diri, kritik diri inhibisi. Jika Superego mempertimbangkan orang lain, maka Id dan Ego bersifat egois. Konsekuensi teori ini terhadap psikoanalisis adalah konflik tidak lagi dianalisis sebagai pertentangan antarnaluri, melainkan pertahanan Ego terhadap dorongan naluriah
B. Proses Terapi Psikoanalisis
1. Asosiasi Bebas
Tugas penting dari psikoanalisis adalah untuk membawa keluar apa yang tersembunyi, harapan ketidaksadaran, konflik, dan berbagai keinginan tidak sadar yang terwujud sebagai gejala penyimpangan dan terwujud pada perilaku individu. Tujuan akhir dari berbagai tujuan itu adalah asosiasi bebas. Klien diharapkan dapat menerima aturan dasar, untuk meminimalisasi kontrol kesadarannya, tanpa melakukan sensor atau seleksi apa yang terlintas pada pikirannya. Agar proses asosiasi bebas dapat berjalan lancar; maka kemungkinan datangnya stimulus diperkecil, dan klien didukung melakukan kondisi yang rileks.Para analis meminta klien untuk melakukan asosiasi bebas, berbicara dengan bebas tentang dirinya, menceritakan tentang seluruh mimpi-mimpinya; baik tentang isinya, dan mengatakan segala sesuatunya pada analis. Ia mengatakan berbagai hal dan menguraikannya satu persatu apa saja yang ada di dalam pikirannya dan menghubungkannya dengan bagian-bagian dari asosiasi yang ada. Apakah asosiasi? Asosiasi merupakan keberkaitan antara hubungan antara gagasan, ingatan, dan kegiatan dari pancaindera (Pustaka, 1990).Pada bagian ini, asosiasi-asosiasi bebas mengarah pada pembicaraan bebas yang terlintas dalam pikiran klien. Analis harus mampu mendorong agar klien mau bebas berbicara,pengacauan stimuli diperkecil dan relaksasi didukung. Selama sesi-sesi ilmu pengobatan, klien berbaring didepan.Freud biasanya duduk dekat kepala depan, karena Freud dapat mengamati pandangan pasien. Freud percaya bahwa dengan tata letak seperti ini, dapat mengatur energi yang tidak berguna dari klien. Energi yang tidak berguna dari klien itu berupa pemikiran, perasaan, dan sejumlah fantasi. Pada mulanya, Freud meminta klien untuk menutup matanya sebagai tambahan.Hanya hal ini dapat menyebabkan klien tidak melakukan kontak dengan terapisnya. Format terapi bagi psikoanalisis klasik meminimkan keterlibatan rangsangan fisik dan sosial, agar tidak menghambat kahyalan internal dan berbagai keinginan. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan komunikasi klien untuk menyatakan pikiran-pikiran tidak sadar, emosional, dan tidak masuk akal. Proses tersebut agar semakin dekat dengan pada proses utama, yaitu penggalian pengamatan pada pikiran masa anak-anak, mimpi, dan pikiran tidak rasional. Pikiran pikiran itu memang dicari pada proses asosiasi bebas, dibandingkan pikiran kedewasaan, orientasi realitas, dan kondisi siaga.Beberapa ahli analis jiwa tradisional masih meminta klien mereka berbaring di dipan, namun pada saat ini banyak juga para analis dan klien duduk berhadapan di kursi yang nyaman.Pembicaraan tentang apa yang terlintas di pikiran bukanlah suatu tugas yang mudah.Individu bisa saja tidak siap atau tidak akan menyanggupi pernyataan-pernyataan yang rasional,justru sebaliknya ia mungkin akan memotong dan melarang pikiran-pikiran irasional tersebut timbul. Niat yang baik (yang secara sosial telah menjadi suatu hal yang baku), seseorang tidak akan suka untuk membicarakan hal-hal yang nampaknya sepele, tidak perlu, tidak masuk akal,mempermalukan orang lain, atau hal yang tidak relevan. Beberapa isu yang dengan sadar dihindarkan, menyebabkan kesadaran melakukan pertahanan; menyebabkan pikiran tak sadar justru menjadi pemicu proses sakit saraf individu. Timbulnya penutupan untuk berbagai hal yang sifatnya, seperti: hal yang sederhana, penghindaran topik, dan perilaku yang mencerminkan pembalasan dalam proses perawatan; seperti melupakan atau datang menjelang akhir dari janji temu.
2. Analisa Mimpi
Selama tidur, ada kondisi yang santai dari pengendalian ego normal dibandingkan pada waktu asosiasi bebas. Hal ini disebabkan proses tak sadar menjadi lebih bebas beraksi dibandingkan pada waktu pikiran sadar. Mimpi menyediakan suatu sumber informasi yang kaya tentang kebutuhan tak sadar; Freud menguraikan bahwa mimpi sebagai “pernyataan yang paling mudah dari alam tidak sadar”. Klien dalam psikoanalisa standar didukung untuk mengingat dan menceriterakan mimpi mereka, serta dibahas lalu dianalisa lebih lanjut. Tema dan gambaran mimpi ini diselidiki sebagai stimulus atau bahan eksplorasi untuk asosiasi bebas.Mimpi yang timbul dilaporkan oleh Freud merupakan wujud dari isi yang tersembunyi (material tak sadar yang tersembunyi). Material yang tersembunyi untuk muncul secara jelas, justru dapat menyebabkan ketidakmampuan individu untuk tidur, karenanya proses itu diubah bentuknya dari konflik dan berbagai keinginan yang tak sadar, menjadi sesuatu yang tidak bersalah dan dimunculkan dalam bentuk gambaran. Pekerjaan mimpi bertanggung jawab untuk perubahan ini,melibatkan suatu rangkaian operasi mental yang kompleks, seperti penggantian jarak, pemadatan,dan simbolisasi. Banyak dari lambang ini secara pribadi unik, meskipun demikian, mimpi pada orang lain jadilah lebih universal. Suatu obyek simbol, berupa penis, dalam mimpi dapat berupa bermacam-macam simbol. Simbol tersebut akan nampak menghadirkan pengalaman manusia yang tersebar luas dan mempunyai keadaan umum pada lambang mitologi, seni, atau puisi. Bagi psikoterapis pemaknaan ini harus diselidiki untuk maksud dam arti bagi setiap pribadi pada setiap kasus.
3. Pemindahan (Transference)
Analisa pemindahan (transference) adalah inti dari terapi psikonalisis. Proses ini merupakan kondisi klien, di mana ia memiliki perasaan pribadi yang kuat pada analis.Perasaan itu tidak bisa dipahami berkaitan dengan peristiwa terapi yang nyata atau dari karakters analis atau perilaku yang timbul.Rasa hormat dan cinta (pemindahan yang positif) atau kebalikannya; seperti,rasa benci, penghinaan atau marah (bersifat negatif)menjadi nampak demikian berlebihan. Hal ini yang sering dilakukan pada anak-anak dan merupakan pola yang primif. Tidak sesuai dengan statusnya sebagai orang dewasa dan hubungan profesional antara klien dengan terapis.
4. Penafsiran (Interpretation)
Hal yang pokok saat melakukan proses analisa pada klien adalah penafsiran yang menjadi bagian dari asosiasi bebas menjadi bagian dari teknik dari psikoanalisis. Gambaran yang mengarahkan pada psikoterapi adanya orientasi untuk pembahasan panjangnya penafisan berkaitan dengan model terapi yang digunakan.Penafsiran psikoanalisa memiliki arti secara spesifik bagaimana ketidak sadaran.
D. Terapi Psikonalisis Jangka Pendek
Proses psikoanalisa melibatkan empat hingga lima kali pertemuan selama satu jam untuk perminggu,selama dua atau tiga tahun.penyimpangan waktu hingga empat atau lima tahun bukanlah sesuatu yang luar biasa.banyak pertimbangan,biaya yang lebih sedikit,waktu yang panjang dan akhir dari sesi yang seolah tidak terbatas.saat ini waktu proses psikoanalisis dapat dilakukan lebih singkat,tanpa mengurangi atau kehilangan kekayaan uniknya.beberapa psikoterapis praktis yang mempraktikkan psikoanalisa hingga memakan waktu bertahun-tahun.banyak orang yang memasuki proses psikoterapi psikoanalisa yang tradisional.psikoterapi untuk memperoleh bantuan pada permasalahan yang spesifik.
1. Pengertian Terapi Psikoanalisis
Adalah teknik atau metoda pengobatan yang dilakukan oleh terapis dengan cara menggali permasalahan dan pengalaman yang direpresnya selama masa kecil serta memunculkan dorongan-dorongan yang tidak disadarinya selama ini. Psikoanalisa sendiri dipelopori oleh tokoh psikologi yang terkenal yaitu Sigmund Freud. Seperti konsep psikoanalisa Sigmund Freud, terapi dengan metode ini juga mempunyai konsep yang didasari oleh struktur kepribadian dasar manusia yaitu id, ego, dan super ego. Metode ini sendiri merupakan upaya perawatan terhadap perilaku abnormal atau gangguan dengan cara mengidentifikasikan penyebab-penyebab ‘tak sadar’ dari perilaku atau gangguan yang terjadi (diderita klien). Hal ini sangat berkaitan dengan konsep struktur pikiran yang diungkapkan oleh Freud. Freud mengungkapkan bahwa penyebab ‘tak sadar’ itu merupakan konflik yang disebabkan adanya kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan dalam diri tiap individu dan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian individu sehingga menimbulkan stres dalam kehidupan.
Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengubah kesadaran individu, sehingga segala sumber permasalahan yang ada didalam diri individu yang semulanya tidak sadar menjadi sadar, serta memperkuat ego individu untuk dapat menghadapi kehidupan yang realita.
Didalam terapi psikoanalisis ini sangat dibutuhkan sifat dari terapeutik, maksudnya adalah adanya hubungan interpersonal dan kerja sama yang professional antara terapis dan klien, terapis harus bisa menjaga hubungan ini agar klien dapat merasakan kenyamanan, ketenangan dan bisa rileks menceritakan permasalahan serta tujuannya untuk menemui terapis. Karena focus utama dalam proses terapi ini adalah menggali seluruh informasi permasalahan dan menganalisis setiap kata-kata yang diungkapkan oleh klien.
2. Konsep-konsep Terapi Psikoanalisis
Anxiety/Kecemasan
• Anxiety realita
Adalah rasa takut akan bahaya dari dunia luar dimana individu tidak dapat menerima kenyataan.
• Anxiety neurotic
Adalah rasa takut yang muncul ketika insting tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan seseorang melakukan sesuatu yang nantinya akan mendapat hukuman
• Anxiety moral
Adalah rasa takut yang muncul pada orang-orang yang memilki superego yang tinggi, orang-orang dengan perkembangan moral yang baik akan merasa berdosa ketika merka melakukan suatu hal yang bertentangan dengaan nilai moral.
Struktur Kepribadian
• Id
Id (berkembang sejak lahir hingga usia dua tahun) merupakan lapisan psikis yang paling dasar di mana cinta dan kematian berkuasa. Id bersifat primitif, tidak terkendali, dan emosional: “sebuah dunia yang tidak logis”. Naluri bawaan seperti seks, agresif, dan keinginan-keinginan yang direpresi berada di sini. Prinsip kesenangan mendominasi bagian ini sedangkan ruang, waktu, beserta logika yang berkenaan dengan hukum kontradiksi tidak berlaku. Dalam Id energi dipergunakan untuk memuaskan naluri melalui tindakan refleksi dan pemuasan keinginan segera. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)
Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.
• Ego
Ego (berkembang sejak berusia dua tahun) beraktivitas di semua lapisan; bersifat sadar manakala melakukan aktivitas sadar seperti persepsi lahiriah, persepsi batiniah, dan proses-proses intelektual; berlaku prasadar saat melakukan fungsi ingatan; dan aktivitas tak sadar Ego dijalankan dengan mekanisme pertahanan (defence mechanisms). Mekanisme pertahanan diri dapat dilakukan dengan cara sublimasi (misalnya mengatasi stres dengan melukis atau olah raga), represi, regresi, fiksasi, identifikasi, proyeksi, penolakan, dan pengalihan (displacement). Mempertahankan keutuhan kepribadian dan adaptasi dengan lingkungan melalui prinsip realitas adalah peran utama Ego. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)
• Superego
Superego (berkembang saat berusia tiga tahun dan dipengaruhi orang tua) dibentuk melalui internalisasi larangan atau perintah yang berasal dari luar hingga menjadi sesuatu yang menjadi milik subjek sendiri. Aktivitas Superego sebagai dasar hati nurani saat menyatakan diri dalam konflik dengan Ego yang dirasakan dalam emosi seperti rasa bersalah, menyesal, dan sebagainya. Termasuk di sini observasi diri, kritik diri inhibisi. Jika Superego mempertimbangkan orang lain, maka Id dan Ego bersifat egois. Konsekuensi teori ini terhadap psikoanalisis adalah konflik tidak lagi dianalisis sebagai pertentangan antarnaluri, melainkan pertahanan Ego terhadap dorongan naluriah
B. Proses Terapi Psikoanalisis
1. Asosiasi Bebas
Tugas penting dari psikoanalisis adalah untuk membawa keluar apa yang tersembunyi, harapan ketidaksadaran, konflik, dan berbagai keinginan tidak sadar yang terwujud sebagai gejala penyimpangan dan terwujud pada perilaku individu. Tujuan akhir dari berbagai tujuan itu adalah asosiasi bebas. Klien diharapkan dapat menerima aturan dasar, untuk meminimalisasi kontrol kesadarannya, tanpa melakukan sensor atau seleksi apa yang terlintas pada pikirannya. Agar proses asosiasi bebas dapat berjalan lancar; maka kemungkinan datangnya stimulus diperkecil, dan klien didukung melakukan kondisi yang rileks.Para analis meminta klien untuk melakukan asosiasi bebas, berbicara dengan bebas tentang dirinya, menceritakan tentang seluruh mimpi-mimpinya; baik tentang isinya, dan mengatakan segala sesuatunya pada analis. Ia mengatakan berbagai hal dan menguraikannya satu persatu apa saja yang ada di dalam pikirannya dan menghubungkannya dengan bagian-bagian dari asosiasi yang ada. Apakah asosiasi? Asosiasi merupakan keberkaitan antara hubungan antara gagasan, ingatan, dan kegiatan dari pancaindera (Pustaka, 1990).Pada bagian ini, asosiasi-asosiasi bebas mengarah pada pembicaraan bebas yang terlintas dalam pikiran klien. Analis harus mampu mendorong agar klien mau bebas berbicara,pengacauan stimuli diperkecil dan relaksasi didukung. Selama sesi-sesi ilmu pengobatan, klien berbaring didepan.Freud biasanya duduk dekat kepala depan, karena Freud dapat mengamati pandangan pasien. Freud percaya bahwa dengan tata letak seperti ini, dapat mengatur energi yang tidak berguna dari klien. Energi yang tidak berguna dari klien itu berupa pemikiran, perasaan, dan sejumlah fantasi. Pada mulanya, Freud meminta klien untuk menutup matanya sebagai tambahan.Hanya hal ini dapat menyebabkan klien tidak melakukan kontak dengan terapisnya. Format terapi bagi psikoanalisis klasik meminimkan keterlibatan rangsangan fisik dan sosial, agar tidak menghambat kahyalan internal dan berbagai keinginan. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan komunikasi klien untuk menyatakan pikiran-pikiran tidak sadar, emosional, dan tidak masuk akal. Proses tersebut agar semakin dekat dengan pada proses utama, yaitu penggalian pengamatan pada pikiran masa anak-anak, mimpi, dan pikiran tidak rasional. Pikiran pikiran itu memang dicari pada proses asosiasi bebas, dibandingkan pikiran kedewasaan, orientasi realitas, dan kondisi siaga.Beberapa ahli analis jiwa tradisional masih meminta klien mereka berbaring di dipan, namun pada saat ini banyak juga para analis dan klien duduk berhadapan di kursi yang nyaman.Pembicaraan tentang apa yang terlintas di pikiran bukanlah suatu tugas yang mudah.Individu bisa saja tidak siap atau tidak akan menyanggupi pernyataan-pernyataan yang rasional,justru sebaliknya ia mungkin akan memotong dan melarang pikiran-pikiran irasional tersebut timbul. Niat yang baik (yang secara sosial telah menjadi suatu hal yang baku), seseorang tidak akan suka untuk membicarakan hal-hal yang nampaknya sepele, tidak perlu, tidak masuk akal,mempermalukan orang lain, atau hal yang tidak relevan. Beberapa isu yang dengan sadar dihindarkan, menyebabkan kesadaran melakukan pertahanan; menyebabkan pikiran tak sadar justru menjadi pemicu proses sakit saraf individu. Timbulnya penutupan untuk berbagai hal yang sifatnya, seperti: hal yang sederhana, penghindaran topik, dan perilaku yang mencerminkan pembalasan dalam proses perawatan; seperti melupakan atau datang menjelang akhir dari janji temu.
2. Analisa Mimpi
Selama tidur, ada kondisi yang santai dari pengendalian ego normal dibandingkan pada waktu asosiasi bebas. Hal ini disebabkan proses tak sadar menjadi lebih bebas beraksi dibandingkan pada waktu pikiran sadar. Mimpi menyediakan suatu sumber informasi yang kaya tentang kebutuhan tak sadar; Freud menguraikan bahwa mimpi sebagai “pernyataan yang paling mudah dari alam tidak sadar”. Klien dalam psikoanalisa standar didukung untuk mengingat dan menceriterakan mimpi mereka, serta dibahas lalu dianalisa lebih lanjut. Tema dan gambaran mimpi ini diselidiki sebagai stimulus atau bahan eksplorasi untuk asosiasi bebas.Mimpi yang timbul dilaporkan oleh Freud merupakan wujud dari isi yang tersembunyi (material tak sadar yang tersembunyi). Material yang tersembunyi untuk muncul secara jelas, justru dapat menyebabkan ketidakmampuan individu untuk tidur, karenanya proses itu diubah bentuknya dari konflik dan berbagai keinginan yang tak sadar, menjadi sesuatu yang tidak bersalah dan dimunculkan dalam bentuk gambaran. Pekerjaan mimpi bertanggung jawab untuk perubahan ini,melibatkan suatu rangkaian operasi mental yang kompleks, seperti penggantian jarak, pemadatan,dan simbolisasi. Banyak dari lambang ini secara pribadi unik, meskipun demikian, mimpi pada orang lain jadilah lebih universal. Suatu obyek simbol, berupa penis, dalam mimpi dapat berupa bermacam-macam simbol. Simbol tersebut akan nampak menghadirkan pengalaman manusia yang tersebar luas dan mempunyai keadaan umum pada lambang mitologi, seni, atau puisi. Bagi psikoterapis pemaknaan ini harus diselidiki untuk maksud dam arti bagi setiap pribadi pada setiap kasus.
3. Pemindahan (Transference)
Analisa pemindahan (transference) adalah inti dari terapi psikonalisis. Proses ini merupakan kondisi klien, di mana ia memiliki perasaan pribadi yang kuat pada analis.Perasaan itu tidak bisa dipahami berkaitan dengan peristiwa terapi yang nyata atau dari karakters analis atau perilaku yang timbul.Rasa hormat dan cinta (pemindahan yang positif) atau kebalikannya; seperti,rasa benci, penghinaan atau marah (bersifat negatif)menjadi nampak demikian berlebihan. Hal ini yang sering dilakukan pada anak-anak dan merupakan pola yang primif. Tidak sesuai dengan statusnya sebagai orang dewasa dan hubungan profesional antara klien dengan terapis.
4. Penafsiran (Interpretation)
Hal yang pokok saat melakukan proses analisa pada klien adalah penafsiran yang menjadi bagian dari asosiasi bebas menjadi bagian dari teknik dari psikoanalisis. Gambaran yang mengarahkan pada psikoterapi adanya orientasi untuk pembahasan panjangnya penafisan berkaitan dengan model terapi yang digunakan.Penafsiran psikoanalisa memiliki arti secara spesifik bagaimana ketidak sadaran.
D. Terapi Psikonalisis Jangka Pendek
Proses psikoanalisa melibatkan empat hingga lima kali pertemuan selama satu jam untuk perminggu,selama dua atau tiga tahun.penyimpangan waktu hingga empat atau lima tahun bukanlah sesuatu yang luar biasa.banyak pertimbangan,biaya yang lebih sedikit,waktu yang panjang dan akhir dari sesi yang seolah tidak terbatas.saat ini waktu proses psikoanalisis dapat dilakukan lebih singkat,tanpa mengurangi atau kehilangan kekayaan uniknya.beberapa psikoterapis praktis yang mempraktikkan psikoanalisa hingga memakan waktu bertahun-tahun.banyak orang yang memasuki proses psikoterapi psikoanalisa yang tradisional.psikoterapi untuk memperoleh bantuan pada permasalahan yang spesifik.
Teknik Terapi Psikoanalisis
mata kuliah : psikoterapi
1. Pengertian Terapi Psikoanalisis
Adalah teknik atau metoda pengobatan yang dilakukan oleh terapis dengan cara menggali permasalahan dan pengalaman yang direpresnya selama masa kecil serta memunculkan dorongan-dorongan yang tidak disadarinya selama ini. Psikoanalisa sendiri dipelopori oleh tokoh psikologi yang terkenal yaitu Sigmund Freud. Seperti konsep psikoanalisa Sigmund Freud, terapi dengan metode ini juga mempunyai konsep yang didasari oleh struktur kepribadian dasar manusia yaitu id, ego, dan super ego. Metode ini sendiri merupakan upaya perawatan terhadap perilaku abnormal atau gangguan dengan cara mengidentifikasikan penyebab-penyebab ‘tak sadar’ dari perilaku atau gangguan yang terjadi (diderita klien). Hal ini sangat berkaitan dengan konsep struktur pikiran yang diungkapkan oleh Freud. Freud mengungkapkan bahwa penyebab ‘tak sadar’ itu merupakan konflik yang disebabkan adanya kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan dalam diri tiap individu dan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian individu sehingga menimbulkan stres dalam kehidupan.
Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengubah kesadaran individu, sehingga segala sumber permasalahan yang ada didalam diri individu yang semulanya tidak sadar menjadi sadar, serta memperkuat ego individu untuk dapat menghadapi kehidupan yang realita.
Didalam terapi psikoanalisis ini sangat dibutuhkan sifat dari terapeutik, maksudnya adalah adanya hubungan interpersonal dan kerja sama yang professional antara terapis dan klien, terapis harus bisa menjaga hubungan ini agar klien dapat merasakan kenyamanan, ketenangan dan bisa rileks menceritakan permasalahan serta tujuannya untuk menemui terapis. Karena focus utama dalam proses terapi ini adalah menggali seluruh informasi permasalahan dan menganalisis setiap kata-kata yang diungkapkan oleh klien.
2. Konsep-konsep Terapi Psikoanalisis
Anxiety/Kecemasan
• Anxiety realita
Adalah rasa takut akan bahaya dari dunia luar dimana individu tidak dapat menerima kenyataan.
• Anxiety neurotic
Adalah rasa takut yang muncul ketika insting tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan seseorang melakukan sesuatu yang nantinya akan mendapat hukuman
• Anxiety moral
Adalah rasa takut yang muncul pada orang-orang yang memilki superego yang tinggi, orang-orang dengan perkembangan moral yang baik akan merasa berdosa ketika merka melakukan suatu hal yang bertentangan dengaan nilai moral.
Struktur Kepribadian
• Id
Id (berkembang sejak lahir hingga usia dua tahun) merupakan lapisan psikis yang paling dasar di mana cinta dan kematian berkuasa. Id bersifat primitif, tidak terkendali, dan emosional: “sebuah dunia yang tidak logis”. Naluri bawaan seperti seks, agresif, dan keinginan-keinginan yang direpresi berada di sini. Prinsip kesenangan mendominasi bagian ini sedangkan ruang, waktu, beserta logika yang berkenaan dengan hukum kontradiksi tidak berlaku. Dalam Id energi dipergunakan untuk memuaskan naluri melalui tindakan refleksi dan pemuasan keinginan segera. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)
Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.
• Ego
Ego (berkembang sejak berusia dua tahun) beraktivitas di semua lapisan; bersifat sadar manakala melakukan aktivitas sadar seperti persepsi lahiriah, persepsi batiniah, dan proses-proses intelektual; berlaku prasadar saat melakukan fungsi ingatan; dan aktivitas tak sadar Ego dijalankan dengan mekanisme pertahanan (defence mechanisms). Mekanisme pertahanan diri dapat dilakukan dengan cara sublimasi (misalnya mengatasi stres dengan melukis atau olah raga), represi, regresi, fiksasi, identifikasi, proyeksi, penolakan, dan pengalihan (displacement). Mempertahankan keutuhan kepribadian dan adaptasi dengan lingkungan melalui prinsip realitas adalah peran utama Ego. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)
• Superego
Superego (berkembang saat berusia tiga tahun dan dipengaruhi orang tua) dibentuk melalui internalisasi larangan atau perintah yang berasal dari luar hingga menjadi sesuatu yang menjadi milik subjek sendiri. Aktivitas Superego sebagai dasar hati nurani saat menyatakan diri dalam konflik dengan Ego yang dirasakan dalam emosi seperti rasa bersalah, menyesal, dan sebagainya. Termasuk di sini observasi diri, kritik diri inhibisi. Jika Superego mempertimbangkan orang lain, maka Id dan Ego bersifat egois. Konsekuensi teori ini terhadap psikoanalisis adalah konflik tidak lagi dianalisis sebagai pertentangan antarnaluri, melainkan pertahanan Ego terhadap dorongan naluriah
B. Proses Terapi Psikoanalisis
1. Asosiasi Bebas
Tugas penting dari psikoanalisis adalah untuk membawa keluar apa yang tersembunyi, harapan ketidaksadaran, konflik, dan berbagai keinginan tidak sadar yang terwujud sebagai gejala penyimpangan dan terwujud pada perilaku individu. Tujuan akhir dari berbagai tujuan itu adalah asosiasi bebas. Klien diharapkan dapat menerima aturan dasar, untuk meminimalisasi kontrol kesadarannya, tanpa melakukan sensor atau seleksi apa yang terlintas pada pikirannya. Agar proses asosiasi bebas dapat berjalan lancar; maka kemungkinan datangnya stimulus diperkecil, dan klien didukung melakukan kondisi yang rileks.Para analis meminta klien untuk melakukan asosiasi bebas, berbicara dengan bebas tentang dirinya, menceritakan tentang seluruh mimpi-mimpinya; baik tentang isinya, dan mengatakan segala sesuatunya pada analis. Ia mengatakan berbagai hal dan menguraikannya satu persatu apa saja yang ada di dalam pikirannya dan menghubungkannya dengan bagian-bagian dari asosiasi yang ada. Apakah asosiasi? Asosiasi merupakan keberkaitan antara hubungan antara gagasan, ingatan, dan kegiatan dari pancaindera (Pustaka, 1990).Pada bagian ini, asosiasi-asosiasi bebas mengarah pada pembicaraan bebas yang terlintas dalam pikiran klien. Analis harus mampu mendorong agar klien mau bebas berbicara,pengacauan stimuli diperkecil dan relaksasi didukung. Selama sesi-sesi ilmu pengobatan, klien berbaring didepan.Freud biasanya duduk dekat kepala depan, karena Freud dapat mengamati pandangan pasien. Freud percaya bahwa dengan tata letak seperti ini, dapat mengatur energi yang tidak berguna dari klien. Energi yang tidak berguna dari klien itu berupa pemikiran, perasaan, dan sejumlah fantasi. Pada mulanya, Freud meminta klien untuk menutup matanya sebagai tambahan.Hanya hal ini dapat menyebabkan klien tidak melakukan kontak dengan terapisnya. Format terapi bagi psikoanalisis klasik meminimkan keterlibatan rangsangan fisik dan sosial, agar tidak menghambat kahyalan internal dan berbagai keinginan. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan komunikasi klien untuk menyatakan pikiran-pikiran tidak sadar, emosional, dan tidak masuk akal. Proses tersebut agar semakin dekat dengan pada proses utama, yaitu penggalian pengamatan pada pikiran masa anak-anak, mimpi, dan pikiran tidak rasional. Pikiran pikiran itu memang dicari pada proses asosiasi bebas, dibandingkan pikiran kedewasaan, orientasi realitas, dan kondisi siaga.Beberapa ahli analis jiwa tradisional masih meminta klien mereka berbaring di dipan, namun pada saat ini banyak juga para analis dan klien duduk berhadapan di kursi yang nyaman.Pembicaraan tentang apa yang terlintas di pikiran bukanlah suatu tugas yang mudah.Individu bisa saja tidak siap atau tidak akan menyanggupi pernyataan-pernyataan yang rasional,justru sebaliknya ia mungkin akan memotong dan melarang pikiran-pikiran irasional tersebut timbul. Niat yang baik (yang secara sosial telah menjadi suatu hal yang baku), seseorang tidak akan suka untuk membicarakan hal-hal yang nampaknya sepele, tidak perlu, tidak masuk akal,mempermalukan orang lain, atau hal yang tidak relevan. Beberapa isu yang dengan sadar dihindarkan, menyebabkan kesadaran melakukan pertahanan; menyebabkan pikiran tak sadar justru menjadi pemicu proses sakit saraf individu. Timbulnya penutupan untuk berbagai hal yang sifatnya, seperti: hal yang sederhana, penghindaran topik, dan perilaku yang mencerminkan pembalasan dalam proses perawatan; seperti melupakan atau datang menjelang akhir dari janji temu.
2. Analisa Mimpi
Selama tidur, ada kondisi yang santai dari pengendalian ego normal dibandingkan pada waktu asosiasi bebas. Hal ini disebabkan proses tak sadar menjadi lebih bebas beraksi dibandingkan pada waktu pikiran sadar. Mimpi menyediakan suatu sumber informasi yang kaya tentang kebutuhan tak sadar; Freud menguraikan bahwa mimpi sebagai “pernyataan yang paling mudah dari alam tidak sadar”. Klien dalam psikoanalisa standar didukung untuk mengingat dan menceriterakan mimpi mereka, serta dibahas lalu dianalisa lebih lanjut. Tema dan gambaran mimpi ini diselidiki sebagai stimulus atau bahan eksplorasi untuk asosiasi bebas.Mimpi yang timbul dilaporkan oleh Freud merupakan wujud dari isi yang tersembunyi (material tak sadar yang tersembunyi). Material yang tersembunyi untuk muncul secara jelas, justru dapat menyebabkan ketidakmampuan individu untuk tidur, karenanya proses itu diubah bentuknya dari konflik dan berbagai keinginan yang tak sadar, menjadi sesuatu yang tidak bersalah dan dimunculkan dalam bentuk gambaran. Pekerjaan mimpi bertanggung jawab untuk perubahan ini,melibatkan suatu rangkaian operasi mental yang kompleks, seperti penggantian jarak, pemadatan,dan simbolisasi. Banyak dari lambang ini secara pribadi unik, meskipun demikian, mimpi pada orang lain jadilah lebih universal. Suatu obyek simbol, berupa penis, dalam mimpi dapat berupa bermacam-macam simbol. Simbol tersebut akan nampak menghadirkan pengalaman manusia yang tersebar luas dan mempunyai keadaan umum pada lambang mitologi, seni, atau puisi. Bagi psikoterapis pemaknaan ini harus diselidiki untuk maksud dam arti bagi setiap pribadi pada setiap kasus.
3. Pemindahan (Transference)
Analisa pemindahan (transference) adalah inti dari terapi psikonalisis. Proses ini merupakan kondisi klien, di mana ia memiliki perasaan pribadi yang kuat pada analis.Perasaan itu tidak bisa dipahami berkaitan dengan peristiwa terapi yang nyata atau dari karakters analis atau perilaku yang timbul.Rasa hormat dan cinta (pemindahan yang positif) atau kebalikannya; seperti,rasa benci, penghinaan atau marah (bersifat negatif)menjadi nampak demikian berlebihan. Hal ini yang sering dilakukan pada anak-anak dan merupakan pola yang primif. Tidak sesuai dengan statusnya sebagai orang dewasa dan hubungan profesional antara klien dengan terapis.
4. Penafsiran (Interpretation)
Hal yang pokok saat melakukan proses analisa pada klien adalah penafsiran yang menjadi bagian dari asosiasi bebas menjadi bagian dari teknik dari psikoanalisis. Gambaran yang mengarahkan pada psikoterapi adanya orientasi untuk pembahasan panjangnya penafisan berkaitan dengan model terapi yang digunakan.Penafsiran psikoanalisa memiliki arti secara spesifik bagaimana ketidak sadaran.
D. Terapi Psikonalisis Jangka Pendek
Proses psikoanalisa melibatkan empat hingga lima kali pertemuan selama satu jam untuk perminggu,selama dua atau tiga tahun.penyimpangan waktu hingga empat atau lima tahun bukanlah sesuatu yang luar biasa.banyak pertimbangan,biaya yang lebih sedikit,waktu yang panjang dan akhir dari sesi yang seolah tidak terbatas.saat ini waktu proses psikoanalisis dapat dilakukan lebih singkat,tanpa mengurangi atau kehilangan kekayaan uniknya.beberapa psikoterapis praktis yang mempraktikkan psikoanalisa hingga memakan waktu bertahun-tahun.banyak orang yang memasuki proses psikoterapi psikoanalisa yang tradisional.psikoterapi untuk memperoleh bantuan pada permasalahan yang spesifik.
1. Pengertian Terapi Psikoanalisis
Adalah teknik atau metoda pengobatan yang dilakukan oleh terapis dengan cara menggali permasalahan dan pengalaman yang direpresnya selama masa kecil serta memunculkan dorongan-dorongan yang tidak disadarinya selama ini. Psikoanalisa sendiri dipelopori oleh tokoh psikologi yang terkenal yaitu Sigmund Freud. Seperti konsep psikoanalisa Sigmund Freud, terapi dengan metode ini juga mempunyai konsep yang didasari oleh struktur kepribadian dasar manusia yaitu id, ego, dan super ego. Metode ini sendiri merupakan upaya perawatan terhadap perilaku abnormal atau gangguan dengan cara mengidentifikasikan penyebab-penyebab ‘tak sadar’ dari perilaku atau gangguan yang terjadi (diderita klien). Hal ini sangat berkaitan dengan konsep struktur pikiran yang diungkapkan oleh Freud. Freud mengungkapkan bahwa penyebab ‘tak sadar’ itu merupakan konflik yang disebabkan adanya kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan dalam diri tiap individu dan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian individu sehingga menimbulkan stres dalam kehidupan.
Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengubah kesadaran individu, sehingga segala sumber permasalahan yang ada didalam diri individu yang semulanya tidak sadar menjadi sadar, serta memperkuat ego individu untuk dapat menghadapi kehidupan yang realita.
Didalam terapi psikoanalisis ini sangat dibutuhkan sifat dari terapeutik, maksudnya adalah adanya hubungan interpersonal dan kerja sama yang professional antara terapis dan klien, terapis harus bisa menjaga hubungan ini agar klien dapat merasakan kenyamanan, ketenangan dan bisa rileks menceritakan permasalahan serta tujuannya untuk menemui terapis. Karena focus utama dalam proses terapi ini adalah menggali seluruh informasi permasalahan dan menganalisis setiap kata-kata yang diungkapkan oleh klien.
2. Konsep-konsep Terapi Psikoanalisis
Anxiety/Kecemasan
• Anxiety realita
Adalah rasa takut akan bahaya dari dunia luar dimana individu tidak dapat menerima kenyataan.
• Anxiety neurotic
Adalah rasa takut yang muncul ketika insting tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan seseorang melakukan sesuatu yang nantinya akan mendapat hukuman
• Anxiety moral
Adalah rasa takut yang muncul pada orang-orang yang memilki superego yang tinggi, orang-orang dengan perkembangan moral yang baik akan merasa berdosa ketika merka melakukan suatu hal yang bertentangan dengaan nilai moral.
Struktur Kepribadian
• Id
Id (berkembang sejak lahir hingga usia dua tahun) merupakan lapisan psikis yang paling dasar di mana cinta dan kematian berkuasa. Id bersifat primitif, tidak terkendali, dan emosional: “sebuah dunia yang tidak logis”. Naluri bawaan seperti seks, agresif, dan keinginan-keinginan yang direpresi berada di sini. Prinsip kesenangan mendominasi bagian ini sedangkan ruang, waktu, beserta logika yang berkenaan dengan hukum kontradiksi tidak berlaku. Dalam Id energi dipergunakan untuk memuaskan naluri melalui tindakan refleksi dan pemuasan keinginan segera. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)
Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.
• Ego
Ego (berkembang sejak berusia dua tahun) beraktivitas di semua lapisan; bersifat sadar manakala melakukan aktivitas sadar seperti persepsi lahiriah, persepsi batiniah, dan proses-proses intelektual; berlaku prasadar saat melakukan fungsi ingatan; dan aktivitas tak sadar Ego dijalankan dengan mekanisme pertahanan (defence mechanisms). Mekanisme pertahanan diri dapat dilakukan dengan cara sublimasi (misalnya mengatasi stres dengan melukis atau olah raga), represi, regresi, fiksasi, identifikasi, proyeksi, penolakan, dan pengalihan (displacement). Mempertahankan keutuhan kepribadian dan adaptasi dengan lingkungan melalui prinsip realitas adalah peran utama Ego. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)
• Superego
Superego (berkembang saat berusia tiga tahun dan dipengaruhi orang tua) dibentuk melalui internalisasi larangan atau perintah yang berasal dari luar hingga menjadi sesuatu yang menjadi milik subjek sendiri. Aktivitas Superego sebagai dasar hati nurani saat menyatakan diri dalam konflik dengan Ego yang dirasakan dalam emosi seperti rasa bersalah, menyesal, dan sebagainya. Termasuk di sini observasi diri, kritik diri inhibisi. Jika Superego mempertimbangkan orang lain, maka Id dan Ego bersifat egois. Konsekuensi teori ini terhadap psikoanalisis adalah konflik tidak lagi dianalisis sebagai pertentangan antarnaluri, melainkan pertahanan Ego terhadap dorongan naluriah
B. Proses Terapi Psikoanalisis
1. Asosiasi Bebas
Tugas penting dari psikoanalisis adalah untuk membawa keluar apa yang tersembunyi, harapan ketidaksadaran, konflik, dan berbagai keinginan tidak sadar yang terwujud sebagai gejala penyimpangan dan terwujud pada perilaku individu. Tujuan akhir dari berbagai tujuan itu adalah asosiasi bebas. Klien diharapkan dapat menerima aturan dasar, untuk meminimalisasi kontrol kesadarannya, tanpa melakukan sensor atau seleksi apa yang terlintas pada pikirannya. Agar proses asosiasi bebas dapat berjalan lancar; maka kemungkinan datangnya stimulus diperkecil, dan klien didukung melakukan kondisi yang rileks.Para analis meminta klien untuk melakukan asosiasi bebas, berbicara dengan bebas tentang dirinya, menceritakan tentang seluruh mimpi-mimpinya; baik tentang isinya, dan mengatakan segala sesuatunya pada analis. Ia mengatakan berbagai hal dan menguraikannya satu persatu apa saja yang ada di dalam pikirannya dan menghubungkannya dengan bagian-bagian dari asosiasi yang ada. Apakah asosiasi? Asosiasi merupakan keberkaitan antara hubungan antara gagasan, ingatan, dan kegiatan dari pancaindera (Pustaka, 1990).Pada bagian ini, asosiasi-asosiasi bebas mengarah pada pembicaraan bebas yang terlintas dalam pikiran klien. Analis harus mampu mendorong agar klien mau bebas berbicara,pengacauan stimuli diperkecil dan relaksasi didukung. Selama sesi-sesi ilmu pengobatan, klien berbaring didepan.Freud biasanya duduk dekat kepala depan, karena Freud dapat mengamati pandangan pasien. Freud percaya bahwa dengan tata letak seperti ini, dapat mengatur energi yang tidak berguna dari klien. Energi yang tidak berguna dari klien itu berupa pemikiran, perasaan, dan sejumlah fantasi. Pada mulanya, Freud meminta klien untuk menutup matanya sebagai tambahan.Hanya hal ini dapat menyebabkan klien tidak melakukan kontak dengan terapisnya. Format terapi bagi psikoanalisis klasik meminimkan keterlibatan rangsangan fisik dan sosial, agar tidak menghambat kahyalan internal dan berbagai keinginan. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan komunikasi klien untuk menyatakan pikiran-pikiran tidak sadar, emosional, dan tidak masuk akal. Proses tersebut agar semakin dekat dengan pada proses utama, yaitu penggalian pengamatan pada pikiran masa anak-anak, mimpi, dan pikiran tidak rasional. Pikiran pikiran itu memang dicari pada proses asosiasi bebas, dibandingkan pikiran kedewasaan, orientasi realitas, dan kondisi siaga.Beberapa ahli analis jiwa tradisional masih meminta klien mereka berbaring di dipan, namun pada saat ini banyak juga para analis dan klien duduk berhadapan di kursi yang nyaman.Pembicaraan tentang apa yang terlintas di pikiran bukanlah suatu tugas yang mudah.Individu bisa saja tidak siap atau tidak akan menyanggupi pernyataan-pernyataan yang rasional,justru sebaliknya ia mungkin akan memotong dan melarang pikiran-pikiran irasional tersebut timbul. Niat yang baik (yang secara sosial telah menjadi suatu hal yang baku), seseorang tidak akan suka untuk membicarakan hal-hal yang nampaknya sepele, tidak perlu, tidak masuk akal,mempermalukan orang lain, atau hal yang tidak relevan. Beberapa isu yang dengan sadar dihindarkan, menyebabkan kesadaran melakukan pertahanan; menyebabkan pikiran tak sadar justru menjadi pemicu proses sakit saraf individu. Timbulnya penutupan untuk berbagai hal yang sifatnya, seperti: hal yang sederhana, penghindaran topik, dan perilaku yang mencerminkan pembalasan dalam proses perawatan; seperti melupakan atau datang menjelang akhir dari janji temu.
2. Analisa Mimpi
Selama tidur, ada kondisi yang santai dari pengendalian ego normal dibandingkan pada waktu asosiasi bebas. Hal ini disebabkan proses tak sadar menjadi lebih bebas beraksi dibandingkan pada waktu pikiran sadar. Mimpi menyediakan suatu sumber informasi yang kaya tentang kebutuhan tak sadar; Freud menguraikan bahwa mimpi sebagai “pernyataan yang paling mudah dari alam tidak sadar”. Klien dalam psikoanalisa standar didukung untuk mengingat dan menceriterakan mimpi mereka, serta dibahas lalu dianalisa lebih lanjut. Tema dan gambaran mimpi ini diselidiki sebagai stimulus atau bahan eksplorasi untuk asosiasi bebas.Mimpi yang timbul dilaporkan oleh Freud merupakan wujud dari isi yang tersembunyi (material tak sadar yang tersembunyi). Material yang tersembunyi untuk muncul secara jelas, justru dapat menyebabkan ketidakmampuan individu untuk tidur, karenanya proses itu diubah bentuknya dari konflik dan berbagai keinginan yang tak sadar, menjadi sesuatu yang tidak bersalah dan dimunculkan dalam bentuk gambaran. Pekerjaan mimpi bertanggung jawab untuk perubahan ini,melibatkan suatu rangkaian operasi mental yang kompleks, seperti penggantian jarak, pemadatan,dan simbolisasi. Banyak dari lambang ini secara pribadi unik, meskipun demikian, mimpi pada orang lain jadilah lebih universal. Suatu obyek simbol, berupa penis, dalam mimpi dapat berupa bermacam-macam simbol. Simbol tersebut akan nampak menghadirkan pengalaman manusia yang tersebar luas dan mempunyai keadaan umum pada lambang mitologi, seni, atau puisi. Bagi psikoterapis pemaknaan ini harus diselidiki untuk maksud dam arti bagi setiap pribadi pada setiap kasus.
3. Pemindahan (Transference)
Analisa pemindahan (transference) adalah inti dari terapi psikonalisis. Proses ini merupakan kondisi klien, di mana ia memiliki perasaan pribadi yang kuat pada analis.Perasaan itu tidak bisa dipahami berkaitan dengan peristiwa terapi yang nyata atau dari karakters analis atau perilaku yang timbul.Rasa hormat dan cinta (pemindahan yang positif) atau kebalikannya; seperti,rasa benci, penghinaan atau marah (bersifat negatif)menjadi nampak demikian berlebihan. Hal ini yang sering dilakukan pada anak-anak dan merupakan pola yang primif. Tidak sesuai dengan statusnya sebagai orang dewasa dan hubungan profesional antara klien dengan terapis.
4. Penafsiran (Interpretation)
Hal yang pokok saat melakukan proses analisa pada klien adalah penafsiran yang menjadi bagian dari asosiasi bebas menjadi bagian dari teknik dari psikoanalisis. Gambaran yang mengarahkan pada psikoterapi adanya orientasi untuk pembahasan panjangnya penafisan berkaitan dengan model terapi yang digunakan.Penafsiran psikoanalisa memiliki arti secara spesifik bagaimana ketidak sadaran.
D. Terapi Psikonalisis Jangka Pendek
Proses psikoanalisa melibatkan empat hingga lima kali pertemuan selama satu jam untuk perminggu,selama dua atau tiga tahun.penyimpangan waktu hingga empat atau lima tahun bukanlah sesuatu yang luar biasa.banyak pertimbangan,biaya yang lebih sedikit,waktu yang panjang dan akhir dari sesi yang seolah tidak terbatas.saat ini waktu proses psikoanalisis dapat dilakukan lebih singkat,tanpa mengurangi atau kehilangan kekayaan uniknya.beberapa psikoterapis praktis yang mempraktikkan psikoanalisa hingga memakan waktu bertahun-tahun.banyak orang yang memasuki proses psikoterapi psikoanalisa yang tradisional.psikoterapi untuk memperoleh bantuan pada permasalahan yang spesifik.
Sabtu, 16 Maret 2013
Teknik Terapi Psikoanalisis
Mata kuliah : Psikoterapi
1. Pengertian Terapi Psikoanalisis
Adalah teknik atau metoda pengobatan yang dilakukan oleh terapis dengan cara menggali permasalahan dan pengalaman yang direpresnya selama masa kecil serta memunculkan dorongan-dorongan yang tidak disadarinya selama ini. Psikoanalisa sendiri dipelopori oleh tokoh psikologi yang terkenal yaitu Sigmund Freud. Seperti konsep psikoanalisa Sigmund Freud, terapi dengan metode ini juga mempunyai konsep yang didasari oleh struktur kepribadian dasar manusia yaitu id, ego, dan super ego. Metode ini sendiri merupakan upaya perawatan terhadap perilaku abnormal atau gangguan dengan cara mengidentifikasikan penyebab-penyebab ‘tak sadar’ dari perilaku atau gangguan yang terjadi (diderita klien). Hal ini sangat berkaitan dengan konsep struktur pikiran yang diungkapkan oleh Freud. Freud mengungkapkan bahwa penyebab ‘tak sadar’ itu merupakan konflik yang disebabkan adanya kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan dalam diri tiap individu dan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian individu sehingga menimbulkan stres dalam kehidupan.
Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengubah kesadaran individu, sehingga segala sumber permasalahan yang ada didalam diri individu yang semulanya tidak sadar menjadi sadar, serta memperkuat ego individu untuk dapat menghadapi kehidupan yang realita.
Didalam terapi psikoanalisis ini sangat dibutuhkan sifat dari terapeutik, maksudnya adalah adanya hubungan interpersonal dan kerja sama yang professional antara terapis dan klien, terapis harus bisa menjaga hubungan ini agar klien dapat merasakan kenyamanan, ketenangan dan bisa rileks menceritakan permasalahan serta tujuannya untuk menemui terapis. Karena focus utama dalam proses terapi ini adalah menggali seluruh informasi permasalahan dan menganalisis setiap kata-kata yang diungkapkan oleh klien.
2. Konsep-konsep Terapi Psikoanalisis
Anxiety/Kecemasan
• Anxiety realita
Adalah rasa takut akan bahaya dari dunia luar dimana individu tidak dapat menerima kenyataan.
• Anxiety neurotic
Adalah rasa takut yang muncul ketika insting tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan seseorang melakukan sesuatu yang nantinya akan mendapat hukuman
• Anxiety moral
Adalah rasa takut yang muncul pada orang-orang yang memilki superego yang tinggi, orang-orang dengan perkembangan moral yang baik akan merasa berdosa ketika merka melakukan suatu hal yang bertentangan dengaan nilai moral.
Struktur Kepribadian
• Id
Id (berkembang sejak lahir hingga usia dua tahun) merupakan lapisan psikis yang paling dasar di mana cinta dan kematian berkuasa. Id bersifat primitif, tidak terkendali, dan emosional: “sebuah dunia yang tidak logis”. Naluri bawaan seperti seks, agresif, dan keinginan-keinginan yang direpresi berada di sini. Prinsip kesenangan mendominasi bagian ini sedangkan ruang, waktu, beserta logika yang berkenaan dengan hukum kontradiksi tidak berlaku. Dalam Id energi dipergunakan untuk memuaskan naluri melalui tindakan refleksi dan pemuasan keinginan segera. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)
Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.
• Ego
Ego (berkembang sejak berusia dua tahun) beraktivitas di semua lapisan; bersifat sadar manakala melakukan aktivitas sadar seperti persepsi lahiriah, persepsi batiniah, dan proses-proses intelektual; berlaku prasadar saat melakukan fungsi ingatan; dan aktivitas tak sadar Ego dijalankan dengan mekanisme pertahanan (defence mechanisms). Mekanisme pertahanan diri dapat dilakukan dengan cara sublimasi (misalnya mengatasi stres dengan melukis atau olah raga), represi, regresi, fiksasi, identifikasi, proyeksi, penolakan, dan pengalihan (displacement). Mempertahankan keutuhan kepribadian dan adaptasi dengan lingkungan melalui prinsip realitas adalah peran utama Ego. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)
• Superego
Superego (berkembang saat berusia tiga tahun dan dipengaruhi orang tua) dibentuk melalui internalisasi larangan atau perintah yang berasal dari luar hingga menjadi sesuatu yang menjadi milik subjek sendiri. Aktivitas Superego sebagai dasar hati nurani saat menyatakan diri dalam konflik dengan Ego yang dirasakan dalam emosi seperti rasa bersalah, menyesal, dan sebagainya. Termasuk di sini observasi diri, kritik diri inhibisi. Jika Superego mempertimbangkan orang lain, maka Id dan Ego bersifat egois. Konsekuensi teori ini terhadap psikoanalisis adalah konflik tidak lagi dianalisis sebagai pertentangan antarnaluri, melainkan pertahanan Ego terhadap dorongan naluriah
B. Proses Terapi Psikoanalisis
1. Asosiasi Bebas
Tugas penting dari psikoanalisis adalah untuk membawa keluar apa yang tersembunyi, harapan ketidaksadaran, konflik, dan berbagai keinginan tidak sadar yang terwujud sebagai gejala penyimpangan dan terwujud pada perilaku individu. Tujuan akhir dari berbagai tujuan itu adalah asosiasi bebas. Klien diharapkan dapat menerima aturan dasar, untuk meminimalisasi kontrol kesadarannya, tanpa melakukan sensor atau seleksi apa yang terlintas pada pikirannya. Agar proses asosiasi bebas dapat berjalan lancar; maka kemungkinan datangnya stimulus diperkecil, dan klien didukung melakukan kondisi yang rileks.Para analis meminta klien untuk melakukan asosiasi bebas, berbicara dengan bebas tentang dirinya, menceritakan tentang seluruh mimpi-mimpinya; baik tentang isinya, dan mengatakan segala sesuatunya pada analis. Ia mengatakan berbagai hal dan menguraikannya satu persatu apa saja yang ada di dalam pikirannya dan menghubungkannya dengan bagian-bagian dari asosiasi yang ada. Apakah asosiasi? Asosiasi merupakan keberkaitan antara hubungan antara gagasan, ingatan, dan kegiatan dari pancaindera (Pustaka, 1990).Pada bagian ini, asosiasi-asosiasi bebas mengarah pada pembicaraan bebas yang terlintas dalam pikiran klien. Analis harus mampu mendorong agar klien mau bebas berbicara,pengacauan stimuli diperkecil dan relaksasi didukung. Selama sesi-sesi ilmu pengobatan, klien berbaring didepan.Freud biasanya duduk dekat kepala depan, karena Freud dapat mengamati pandangan pasien. Freud percaya bahwa dengan tata letak seperti ini, dapat mengatur energi yang tidak berguna dari klien. Energi yang tidak berguna dari klien itu berupa pemikiran, perasaan, dan sejumlah fantasi. Pada mulanya, Freud meminta klien untuk menutup matanya sebagai tambahan.Hanya hal ini dapat menyebabkan klien tidak melakukan kontak dengan terapisnya. Format terapi bagi psikoanalisis klasik meminimkan keterlibatan rangsangan fisik dan sosial, agar tidak menghambat kahyalan internal dan berbagai keinginan. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan komunikasi klien untuk menyatakan pikiran-pikiran tidak sadar, emosional, dan tidak masuk akal. Proses tersebut agar semakin dekat dengan pada proses utama, yaitu penggalian pengamatan pada pikiran masa anak-anak, mimpi, dan pikiran tidak rasional. Pikiran pikiran itu memang dicari pada proses asosiasi bebas, dibandingkan pikiran kedewasaan, orientasi realitas, dan kondisi siaga.Beberapa ahli analis jiwa tradisional masih meminta klien mereka berbaring di dipan, namun pada saat ini banyak juga para analis dan klien duduk berhadapan di kursi yang nyaman.Pembicaraan tentang apa yang terlintas di pikiran bukanlah suatu tugas yang mudah.Individu bisa saja tidak siap atau tidak akan menyanggupi pernyataan-pernyataan yang rasional,justru sebaliknya ia mungkin akan memotong dan melarang pikiran-pikiran irasional tersebut timbul. Niat yang baik (yang secara sosial telah menjadi suatu hal yang baku), seseorang tidak akan suka untuk membicarakan hal-hal yang nampaknya sepele, tidak perlu, tidak masuk akal,mempermalukan orang lain, atau hal yang tidak relevan. Beberapa isu yang dengan sadar dihindarkan, menyebabkan kesadaran melakukan pertahanan; menyebabkan pikiran tak sadar justru menjadi pemicu proses sakit saraf individu. Timbulnya penutupan untuk berbagai hal yang sifatnya, seperti: hal yang sederhana, penghindaran topik, dan perilaku yang mencerminkan pembalasan dalam proses perawatan; seperti melupakan atau datang menjelang akhir dari janji temu.
2. Analisa Mimpi
Selama tidur, ada kondisi yang santai dari pengendalian ego normal dibandingkan pada waktu asosiasi bebas. Hal ini disebabkan proses tak sadar menjadi lebih bebas beraksi dibandingkan pada waktu pikiran sadar. Mimpi menyediakan suatu sumber informasi yang kaya tentang kebutuhan tak sadar; Freud menguraikan bahwa mimpi sebagai “pernyataan yang paling mudah dari alam tidak sadar”. Klien dalam psikoanalisa standar didukung untuk mengingat dan menceriterakan mimpi mereka, serta dibahas lalu dianalisa lebih lanjut. Tema dan gambaran mimpi ini diselidiki sebagai stimulus atau bahan eksplorasi untuk asosiasi bebas.Mimpi yang timbul dilaporkan oleh Freud merupakan wujud dari isi yang tersembunyi (material tak sadar yang tersembunyi). Material yang tersembunyi untuk muncul secara jelas, justru dapat menyebabkan ketidakmampuan individu untuk tidur, karenanya proses itu diubah bentuknya dari konflik dan berbagai keinginan yang tak sadar, menjadi sesuatu yang tidak bersalah dan dimunculkan dalam bentuk gambaran. Pekerjaan mimpi bertanggung jawab untuk perubahan ini,melibatkan suatu rangkaian operasi mental yang kompleks, seperti penggantian jarak, pemadatan,dan simbolisasi. Banyak dari lambang ini secara pribadi unik, meskipun demikian, mimpi pada orang lain jadilah lebih universal. Suatu obyek simbol, berupa penis, dalam mimpi dapat berupa bermacam-macam simbol. Simbol tersebut akan nampak menghadirkan pengalaman manusia yang tersebar luas dan mempunyai keadaan umum pada lambang mitologi, seni, atau puisi. Bagi psikoterapis pemaknaan ini harus diselidiki untuk maksud dam arti bagi setiap pribadi pada setiap kasus.
3. Pemindahan (Transference)
Analisa pemindahan (transference) adalah inti dari terapi psikonalisis. Proses ini merupakan kondisi klien, di mana ia memiliki perasaan pribadi yang kuat pada analis.Perasaan itu tidak bisa dipahami berkaitan dengan peristiwa terapi yang nyata atau dari karakters analis atau perilaku yang timbul.Rasa hormat dan cinta (pemindahan yang positif) atau kebalikannya; seperti,rasa benci, penghinaan atau marah (bersifat negatif)menjadi nampak demikian berlebihan. Hal ini yang sering dilakukan pada anak-anak dan merupakan pola yang primif. Tidak sesuai dengan statusnya sebagai orang dewasa dan hubungan profesional antara klien dengan terapis.
4. Penafsiran (Interpretation)
Hal yang pokok saat melakukan proses analisa pada klien adalah penafsiran yang menjadi bagian dari asosiasi bebas menjadi bagian dari teknik dari psikoanalisis. Gambaran yang mengarahkan pada psikoterapi adanya orientasi untuk pembahasan panjangnya penafisan berkaitan dengan model terapi yang digunakan.Penafsiran psikoanalisa memiliki arti secara spesifik bagaimana ketidak sadaran.
D. Terapi Psikonalisis Jangka Pendek
Proses psikoanalisa melibatkan empat hingga lima kali pertemuan selama satu jam untuk perminggu,selama dua atau tiga tahun.penyimpangan waktu hingga empat atau lima tahun bukanlah sesuatu yang luar biasa.banyak pertimbangan,biaya yang lebih sedikit,waktu yang panjang dan akhir dari sesi yang seolah tidak terbatas.saat ini waktu proses psikoanalisis dapat dilakukan lebih singkat,tanpa mengurangi atau kehilangan kekayaan uniknya.beberapa psikoterapis praktis yang mempraktikkan psikoanalisa hingga memakan waktu bertahun-tahun.banyak orang yang memasuki proses psikoterapi psikoanalisa yang tradisional.psikoterapi untuk memperoleh bantuan pada permasalahan yang spesifik.
1. Pengertian Terapi Psikoanalisis
Adalah teknik atau metoda pengobatan yang dilakukan oleh terapis dengan cara menggali permasalahan dan pengalaman yang direpresnya selama masa kecil serta memunculkan dorongan-dorongan yang tidak disadarinya selama ini. Psikoanalisa sendiri dipelopori oleh tokoh psikologi yang terkenal yaitu Sigmund Freud. Seperti konsep psikoanalisa Sigmund Freud, terapi dengan metode ini juga mempunyai konsep yang didasari oleh struktur kepribadian dasar manusia yaitu id, ego, dan super ego. Metode ini sendiri merupakan upaya perawatan terhadap perilaku abnormal atau gangguan dengan cara mengidentifikasikan penyebab-penyebab ‘tak sadar’ dari perilaku atau gangguan yang terjadi (diderita klien). Hal ini sangat berkaitan dengan konsep struktur pikiran yang diungkapkan oleh Freud. Freud mengungkapkan bahwa penyebab ‘tak sadar’ itu merupakan konflik yang disebabkan adanya kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan dalam diri tiap individu dan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian individu sehingga menimbulkan stres dalam kehidupan.
Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengubah kesadaran individu, sehingga segala sumber permasalahan yang ada didalam diri individu yang semulanya tidak sadar menjadi sadar, serta memperkuat ego individu untuk dapat menghadapi kehidupan yang realita.
Didalam terapi psikoanalisis ini sangat dibutuhkan sifat dari terapeutik, maksudnya adalah adanya hubungan interpersonal dan kerja sama yang professional antara terapis dan klien, terapis harus bisa menjaga hubungan ini agar klien dapat merasakan kenyamanan, ketenangan dan bisa rileks menceritakan permasalahan serta tujuannya untuk menemui terapis. Karena focus utama dalam proses terapi ini adalah menggali seluruh informasi permasalahan dan menganalisis setiap kata-kata yang diungkapkan oleh klien.
2. Konsep-konsep Terapi Psikoanalisis
Anxiety/Kecemasan
• Anxiety realita
Adalah rasa takut akan bahaya dari dunia luar dimana individu tidak dapat menerima kenyataan.
• Anxiety neurotic
Adalah rasa takut yang muncul ketika insting tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan seseorang melakukan sesuatu yang nantinya akan mendapat hukuman
• Anxiety moral
Adalah rasa takut yang muncul pada orang-orang yang memilki superego yang tinggi, orang-orang dengan perkembangan moral yang baik akan merasa berdosa ketika merka melakukan suatu hal yang bertentangan dengaan nilai moral.
Struktur Kepribadian
• Id
Id (berkembang sejak lahir hingga usia dua tahun) merupakan lapisan psikis yang paling dasar di mana cinta dan kematian berkuasa. Id bersifat primitif, tidak terkendali, dan emosional: “sebuah dunia yang tidak logis”. Naluri bawaan seperti seks, agresif, dan keinginan-keinginan yang direpresi berada di sini. Prinsip kesenangan mendominasi bagian ini sedangkan ruang, waktu, beserta logika yang berkenaan dengan hukum kontradiksi tidak berlaku. Dalam Id energi dipergunakan untuk memuaskan naluri melalui tindakan refleksi dan pemuasan keinginan segera. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)
Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera.
• Ego
Ego (berkembang sejak berusia dua tahun) beraktivitas di semua lapisan; bersifat sadar manakala melakukan aktivitas sadar seperti persepsi lahiriah, persepsi batiniah, dan proses-proses intelektual; berlaku prasadar saat melakukan fungsi ingatan; dan aktivitas tak sadar Ego dijalankan dengan mekanisme pertahanan (defence mechanisms). Mekanisme pertahanan diri dapat dilakukan dengan cara sublimasi (misalnya mengatasi stres dengan melukis atau olah raga), represi, regresi, fiksasi, identifikasi, proyeksi, penolakan, dan pengalihan (displacement). Mempertahankan keutuhan kepribadian dan adaptasi dengan lingkungan melalui prinsip realitas adalah peran utama Ego. (jurnal “Mengkaji Lucia Hartini Dan Lukisannya Dari Perspektif Psikoanalisis)
• Superego
Superego (berkembang saat berusia tiga tahun dan dipengaruhi orang tua) dibentuk melalui internalisasi larangan atau perintah yang berasal dari luar hingga menjadi sesuatu yang menjadi milik subjek sendiri. Aktivitas Superego sebagai dasar hati nurani saat menyatakan diri dalam konflik dengan Ego yang dirasakan dalam emosi seperti rasa bersalah, menyesal, dan sebagainya. Termasuk di sini observasi diri, kritik diri inhibisi. Jika Superego mempertimbangkan orang lain, maka Id dan Ego bersifat egois. Konsekuensi teori ini terhadap psikoanalisis adalah konflik tidak lagi dianalisis sebagai pertentangan antarnaluri, melainkan pertahanan Ego terhadap dorongan naluriah
B. Proses Terapi Psikoanalisis
1. Asosiasi Bebas
Tugas penting dari psikoanalisis adalah untuk membawa keluar apa yang tersembunyi, harapan ketidaksadaran, konflik, dan berbagai keinginan tidak sadar yang terwujud sebagai gejala penyimpangan dan terwujud pada perilaku individu. Tujuan akhir dari berbagai tujuan itu adalah asosiasi bebas. Klien diharapkan dapat menerima aturan dasar, untuk meminimalisasi kontrol kesadarannya, tanpa melakukan sensor atau seleksi apa yang terlintas pada pikirannya. Agar proses asosiasi bebas dapat berjalan lancar; maka kemungkinan datangnya stimulus diperkecil, dan klien didukung melakukan kondisi yang rileks.Para analis meminta klien untuk melakukan asosiasi bebas, berbicara dengan bebas tentang dirinya, menceritakan tentang seluruh mimpi-mimpinya; baik tentang isinya, dan mengatakan segala sesuatunya pada analis. Ia mengatakan berbagai hal dan menguraikannya satu persatu apa saja yang ada di dalam pikirannya dan menghubungkannya dengan bagian-bagian dari asosiasi yang ada. Apakah asosiasi? Asosiasi merupakan keberkaitan antara hubungan antara gagasan, ingatan, dan kegiatan dari pancaindera (Pustaka, 1990).Pada bagian ini, asosiasi-asosiasi bebas mengarah pada pembicaraan bebas yang terlintas dalam pikiran klien. Analis harus mampu mendorong agar klien mau bebas berbicara,pengacauan stimuli diperkecil dan relaksasi didukung. Selama sesi-sesi ilmu pengobatan, klien berbaring didepan.Freud biasanya duduk dekat kepala depan, karena Freud dapat mengamati pandangan pasien. Freud percaya bahwa dengan tata letak seperti ini, dapat mengatur energi yang tidak berguna dari klien. Energi yang tidak berguna dari klien itu berupa pemikiran, perasaan, dan sejumlah fantasi. Pada mulanya, Freud meminta klien untuk menutup matanya sebagai tambahan.Hanya hal ini dapat menyebabkan klien tidak melakukan kontak dengan terapisnya. Format terapi bagi psikoanalisis klasik meminimkan keterlibatan rangsangan fisik dan sosial, agar tidak menghambat kahyalan internal dan berbagai keinginan. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan komunikasi klien untuk menyatakan pikiran-pikiran tidak sadar, emosional, dan tidak masuk akal. Proses tersebut agar semakin dekat dengan pada proses utama, yaitu penggalian pengamatan pada pikiran masa anak-anak, mimpi, dan pikiran tidak rasional. Pikiran pikiran itu memang dicari pada proses asosiasi bebas, dibandingkan pikiran kedewasaan, orientasi realitas, dan kondisi siaga.Beberapa ahli analis jiwa tradisional masih meminta klien mereka berbaring di dipan, namun pada saat ini banyak juga para analis dan klien duduk berhadapan di kursi yang nyaman.Pembicaraan tentang apa yang terlintas di pikiran bukanlah suatu tugas yang mudah.Individu bisa saja tidak siap atau tidak akan menyanggupi pernyataan-pernyataan yang rasional,justru sebaliknya ia mungkin akan memotong dan melarang pikiran-pikiran irasional tersebut timbul. Niat yang baik (yang secara sosial telah menjadi suatu hal yang baku), seseorang tidak akan suka untuk membicarakan hal-hal yang nampaknya sepele, tidak perlu, tidak masuk akal,mempermalukan orang lain, atau hal yang tidak relevan. Beberapa isu yang dengan sadar dihindarkan, menyebabkan kesadaran melakukan pertahanan; menyebabkan pikiran tak sadar justru menjadi pemicu proses sakit saraf individu. Timbulnya penutupan untuk berbagai hal yang sifatnya, seperti: hal yang sederhana, penghindaran topik, dan perilaku yang mencerminkan pembalasan dalam proses perawatan; seperti melupakan atau datang menjelang akhir dari janji temu.
2. Analisa Mimpi
Selama tidur, ada kondisi yang santai dari pengendalian ego normal dibandingkan pada waktu asosiasi bebas. Hal ini disebabkan proses tak sadar menjadi lebih bebas beraksi dibandingkan pada waktu pikiran sadar. Mimpi menyediakan suatu sumber informasi yang kaya tentang kebutuhan tak sadar; Freud menguraikan bahwa mimpi sebagai “pernyataan yang paling mudah dari alam tidak sadar”. Klien dalam psikoanalisa standar didukung untuk mengingat dan menceriterakan mimpi mereka, serta dibahas lalu dianalisa lebih lanjut. Tema dan gambaran mimpi ini diselidiki sebagai stimulus atau bahan eksplorasi untuk asosiasi bebas.Mimpi yang timbul dilaporkan oleh Freud merupakan wujud dari isi yang tersembunyi (material tak sadar yang tersembunyi). Material yang tersembunyi untuk muncul secara jelas, justru dapat menyebabkan ketidakmampuan individu untuk tidur, karenanya proses itu diubah bentuknya dari konflik dan berbagai keinginan yang tak sadar, menjadi sesuatu yang tidak bersalah dan dimunculkan dalam bentuk gambaran. Pekerjaan mimpi bertanggung jawab untuk perubahan ini,melibatkan suatu rangkaian operasi mental yang kompleks, seperti penggantian jarak, pemadatan,dan simbolisasi. Banyak dari lambang ini secara pribadi unik, meskipun demikian, mimpi pada orang lain jadilah lebih universal. Suatu obyek simbol, berupa penis, dalam mimpi dapat berupa bermacam-macam simbol. Simbol tersebut akan nampak menghadirkan pengalaman manusia yang tersebar luas dan mempunyai keadaan umum pada lambang mitologi, seni, atau puisi. Bagi psikoterapis pemaknaan ini harus diselidiki untuk maksud dam arti bagi setiap pribadi pada setiap kasus.
3. Pemindahan (Transference)
Analisa pemindahan (transference) adalah inti dari terapi psikonalisis. Proses ini merupakan kondisi klien, di mana ia memiliki perasaan pribadi yang kuat pada analis.Perasaan itu tidak bisa dipahami berkaitan dengan peristiwa terapi yang nyata atau dari karakters analis atau perilaku yang timbul.Rasa hormat dan cinta (pemindahan yang positif) atau kebalikannya; seperti,rasa benci, penghinaan atau marah (bersifat negatif)menjadi nampak demikian berlebihan. Hal ini yang sering dilakukan pada anak-anak dan merupakan pola yang primif. Tidak sesuai dengan statusnya sebagai orang dewasa dan hubungan profesional antara klien dengan terapis.
4. Penafsiran (Interpretation)
Hal yang pokok saat melakukan proses analisa pada klien adalah penafsiran yang menjadi bagian dari asosiasi bebas menjadi bagian dari teknik dari psikoanalisis. Gambaran yang mengarahkan pada psikoterapi adanya orientasi untuk pembahasan panjangnya penafisan berkaitan dengan model terapi yang digunakan.Penafsiran psikoanalisa memiliki arti secara spesifik bagaimana ketidak sadaran.
D. Terapi Psikonalisis Jangka Pendek
Proses psikoanalisa melibatkan empat hingga lima kali pertemuan selama satu jam untuk perminggu,selama dua atau tiga tahun.penyimpangan waktu hingga empat atau lima tahun bukanlah sesuatu yang luar biasa.banyak pertimbangan,biaya yang lebih sedikit,waktu yang panjang dan akhir dari sesi yang seolah tidak terbatas.saat ini waktu proses psikoanalisis dapat dilakukan lebih singkat,tanpa mengurangi atau kehilangan kekayaan uniknya.beberapa psikoterapis praktis yang mempraktikkan psikoanalisa hingga memakan waktu bertahun-tahun.banyak orang yang memasuki proses psikoterapi psikoanalisa yang tradisional.psikoterapi untuk memperoleh bantuan pada permasalahan yang spesifik.
Minggu, 06 Januari 2013
MULTIKULTURALISME
Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.
Definisi
Multikulturalisme berhubungan dengan kebudayaan dan kemungkinan konsepnya dibatasi dengan muatan nilai atau memiliki kepentingan tertentu.
“Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.
Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007).
Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).
Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174).
Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary 1991, Watson 2000).
Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar).
Jenis Multikulturalisme
Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.
Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar.
Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.
Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.
Multikulturalisme di Indonesia
Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Menurut kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau dimana stiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam.
Dalam konsep multikulturalisme, terdapat kaitan yang erat bagi pembentukan masyarakat yang berlandaskan bhineka tunggal ika serta mewujudkan suatu kebudayaan nasional yang menjadi pemersatu bagi bangsa Indonesia. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai hambatan yang menghalangi terbentuknya multikulturalisme di masyarakat.
Multikultural dapat terjadi di Indonesia karena :
1. Letak geografis indonesia
2. Perkawinan campur
3. Iklim
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Multikulturalisme
Definisi
Multikulturalisme berhubungan dengan kebudayaan dan kemungkinan konsepnya dibatasi dengan muatan nilai atau memiliki kepentingan tertentu.
“Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.
Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007).
Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).
Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174).
Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary 1991, Watson 2000).
Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho’ Muzhar).
Jenis Multikulturalisme
Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.
Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar.
Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.
Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.
Multikulturalisme di Indonesia
Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Menurut kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau dimana stiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam.
Dalam konsep multikulturalisme, terdapat kaitan yang erat bagi pembentukan masyarakat yang berlandaskan bhineka tunggal ika serta mewujudkan suatu kebudayaan nasional yang menjadi pemersatu bagi bangsa Indonesia. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai hambatan yang menghalangi terbentuknya multikulturalisme di masyarakat.
Multikultural dapat terjadi di Indonesia karena :
1. Letak geografis indonesia
2. Perkawinan campur
3. Iklim
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Multikulturalisme
AKULTURASI PSIKOLOGIS
Sebelum masuk kepengertian akulturasi psikilogis, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu pengerian dari akulturasi dan psikologis itu sendiri.
A. Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusiadengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Atau bisa juga didefinisikan sebagai perpaduan antara kebudayaan yang berbeda yang berlangsung dengan damai dan serasi.
Contoh akulturasi, saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa. Ini terjadi di acara Simfoni Semesta Raya. Contoh lainnya yaitu, baju batik di Indonesia, yang digabungkan dengan model baju dari luar negeri sehingga menghasilkan baju batik modern, di sini budaya batik masih tetap ada namun diinovasikan menjadi batik modern.
Pengertian Akulturasi Dari Para Ahli:
1. Koentjaraningrat (1996:155)
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
2. Garbarino
"Acculturation (is) the process of culture change as a result of long term, face to face contact between two societies" (Garbarino, 1983).
“Akulturasi (adalah) proses perubahan budaya sebagai akibat jangka panjang, tatap muka kontak antara dua masyarakat "(Garbarino, 1983).
3. Ta Chee Beng
"Acculturation is the kind of cultural change of one ethnic group or a certain population of ethnic group (A) in relation to another ethnic group (B) such that certain cultural features of A become similar or bear some resemblance to those of B" (Ta Chee Beng, 1988).
“Akulturasi adalah jenis perubahan budaya dari satu kelompok etnis atau populasi tertentu dari kelompok etnis (A) dalam hubungannya dengan kelompok etnis lain (B) sedemikian rupa sehingga budaya tertentu fitur dari A menjadi serupa atau kemiripan kepada mereka dari B "(Ta Chee Beng, 1988).
4. Robert E.Park dan Ernest W.Burgess (1921:735)
Comprehends those phenomena which result when groups of individuals having different culture comes into continous first hand contact, with subsequent changes in the original cultural patterns of either or both groups".
“Memahami fenomena yang terjadi ketika kelompok individu yang memiliki budaya yang berbeda datang ke dalam kelompok lain, dengan perubahan berikutnya dalam pola-pola budaya asli dari salah satu atau kedua kelompok ".
5. Arnold M.Rose (1957:557-558)
“The adoption by a person or group of the culture of another social group."
"Adopsi oleh orang atau kelompok dari kelompok social budaya lain "
6. Redfield, Linton, Herskovits
Akulturasi meliputi fenomena yang timbul sebagai hasil, jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu, dan mengadakan kontak secara terus menerus, yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya.
Dari definisi tersebut terlihat bahwa akulturasi adalah salah satu aspek daripada culture change dan asimilasi adalah salah satu fase dari akulturasi, sedang difusi adalah daripada akulturasi
7. Krober
Akulturasi itu meliputi perubahan didalam kebudayaan yang disebabkan oleh adanya pengaruh dari kebudayaan yang lain, yang akhirnya menghasilkan makin banyaknya persamaan pada kebudayaan itu. Menurut krober, difusi adalah salah satu aspek dari akulturasi.
8. Gillin & Gillin dalam bukunya “Culture Sosiology”
Sebagai proses dimana masyarakat-masyarakat yang berbeda-beda kebudayaannya mengalami perubahan oleh kontak yang sama dan langsung, tetapi dengan tidak sampai kepada pencampuran yang komplit dan bulat dari kedua kebudayaan itu.
B. Psikologis
Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai perilakudan kognisi manusia. Menurut asal katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi psikologis:
1. Anas Tamsuri
Psikologis adalah masalah-masalah perilaku atau emosional yang dapat meningkatkan resiko gangguan cairan, elektrolit, dan asam-basa.
2. Dennis J. Billy
Psikologis secara tradisional, yaitu kesadaran tentang yang benar dan yang salah.
3. Abdul Mujib
Psikologis adalah pikiran yang melibatkan ide atau intelek untuk memahami dunia dan dirinya.
4. Myra Chave-Jones
Psikologis merupakan gambaran garis besar mengenai cara kerja pikiran kita.
5. Eben Nuban Timo
Psikologis merupakan keyakinan dan pandangan manusia tentang alam sekitar, manusia, danTuhan.
6. Bilson Simamora
Psikologis merupakan faktor yang berasal dari dalam individu seseorang dan unsur-unsur psikologis ini meliputi motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian, memori, emosi, kepercayaan, dan sikap.
7. Nursalam
Psikologis merupakan hal yang merupakan kepribadian dan kemampuan individu dalam memanfaatkannya menghadapi stress yang disebabkan situasi dan lingkungan.
8. Willy Wong
Psikologis merupakan bentuk dari mekanisme fight dan flight dalam diri manusia.
9. Yusuf Qardhawi
Psikologis merupakan hal pertama yang mempengaruhi perilaku seseorang.
Jadi, akulturasi psikologis adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan perilaku tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu perilaku asing. Perilaku asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam perilakunya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur periaku kelompok sendiri. Singkatnya terdapat perpaduan antara perilaku sendiri dengan perilaku asing, tanpa menghilangkan unsur perilaku kelompok sendiri.
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi
http://carapedia.com/pengertian_definisi_psikologis_info2055.html
http://nadiarahma10.blogspot.com/2012/11/akulturasi-psikologis.html
A. Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusiadengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Atau bisa juga didefinisikan sebagai perpaduan antara kebudayaan yang berbeda yang berlangsung dengan damai dan serasi.
Contoh akulturasi, saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa. Ini terjadi di acara Simfoni Semesta Raya. Contoh lainnya yaitu, baju batik di Indonesia, yang digabungkan dengan model baju dari luar negeri sehingga menghasilkan baju batik modern, di sini budaya batik masih tetap ada namun diinovasikan menjadi batik modern.
Pengertian Akulturasi Dari Para Ahli:
1. Koentjaraningrat (1996:155)
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
2. Garbarino
"Acculturation (is) the process of culture change as a result of long term, face to face contact between two societies" (Garbarino, 1983).
“Akulturasi (adalah) proses perubahan budaya sebagai akibat jangka panjang, tatap muka kontak antara dua masyarakat "(Garbarino, 1983).
3. Ta Chee Beng
"Acculturation is the kind of cultural change of one ethnic group or a certain population of ethnic group (A) in relation to another ethnic group (B) such that certain cultural features of A become similar or bear some resemblance to those of B" (Ta Chee Beng, 1988).
“Akulturasi adalah jenis perubahan budaya dari satu kelompok etnis atau populasi tertentu dari kelompok etnis (A) dalam hubungannya dengan kelompok etnis lain (B) sedemikian rupa sehingga budaya tertentu fitur dari A menjadi serupa atau kemiripan kepada mereka dari B "(Ta Chee Beng, 1988).
4. Robert E.Park dan Ernest W.Burgess (1921:735)
Comprehends those phenomena which result when groups of individuals having different culture comes into continous first hand contact, with subsequent changes in the original cultural patterns of either or both groups".
“Memahami fenomena yang terjadi ketika kelompok individu yang memiliki budaya yang berbeda datang ke dalam kelompok lain, dengan perubahan berikutnya dalam pola-pola budaya asli dari salah satu atau kedua kelompok ".
5. Arnold M.Rose (1957:557-558)
“The adoption by a person or group of the culture of another social group."
"Adopsi oleh orang atau kelompok dari kelompok social budaya lain "
6. Redfield, Linton, Herskovits
Akulturasi meliputi fenomena yang timbul sebagai hasil, jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu, dan mengadakan kontak secara terus menerus, yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya.
Dari definisi tersebut terlihat bahwa akulturasi adalah salah satu aspek daripada culture change dan asimilasi adalah salah satu fase dari akulturasi, sedang difusi adalah daripada akulturasi
7. Krober
Akulturasi itu meliputi perubahan didalam kebudayaan yang disebabkan oleh adanya pengaruh dari kebudayaan yang lain, yang akhirnya menghasilkan makin banyaknya persamaan pada kebudayaan itu. Menurut krober, difusi adalah salah satu aspek dari akulturasi.
8. Gillin & Gillin dalam bukunya “Culture Sosiology”
Sebagai proses dimana masyarakat-masyarakat yang berbeda-beda kebudayaannya mengalami perubahan oleh kontak yang sama dan langsung, tetapi dengan tidak sampai kepada pencampuran yang komplit dan bulat dari kedua kebudayaan itu.
B. Psikologis
Psikologi adalah sebuah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai perilakudan kognisi manusia. Menurut asal katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi psikologis:
1. Anas Tamsuri
Psikologis adalah masalah-masalah perilaku atau emosional yang dapat meningkatkan resiko gangguan cairan, elektrolit, dan asam-basa.
2. Dennis J. Billy
Psikologis secara tradisional, yaitu kesadaran tentang yang benar dan yang salah.
3. Abdul Mujib
Psikologis adalah pikiran yang melibatkan ide atau intelek untuk memahami dunia dan dirinya.
4. Myra Chave-Jones
Psikologis merupakan gambaran garis besar mengenai cara kerja pikiran kita.
5. Eben Nuban Timo
Psikologis merupakan keyakinan dan pandangan manusia tentang alam sekitar, manusia, danTuhan.
6. Bilson Simamora
Psikologis merupakan faktor yang berasal dari dalam individu seseorang dan unsur-unsur psikologis ini meliputi motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian, memori, emosi, kepercayaan, dan sikap.
7. Nursalam
Psikologis merupakan hal yang merupakan kepribadian dan kemampuan individu dalam memanfaatkannya menghadapi stress yang disebabkan situasi dan lingkungan.
8. Willy Wong
Psikologis merupakan bentuk dari mekanisme fight dan flight dalam diri manusia.
9. Yusuf Qardhawi
Psikologis merupakan hal pertama yang mempengaruhi perilaku seseorang.
Jadi, akulturasi psikologis adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan perilaku tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu perilaku asing. Perilaku asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam perilakunya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur periaku kelompok sendiri. Singkatnya terdapat perpaduan antara perilaku sendiri dengan perilaku asing, tanpa menghilangkan unsur perilaku kelompok sendiri.
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi
http://carapedia.com/pengertian_definisi_psikologis_info2055.html
http://nadiarahma10.blogspot.com/2012/11/akulturasi-psikologis.html
Minggu, 04 November 2012
AKULTURASI DAN RELASI INTERNAKULTURAL
Ni Ketut Budiartini
3PA01/14510946
Psikologi Lintas Budaya
Kata atau istilah akulturasi sangat identik dengan kebudayaan. Proses akulturasi akan menyebabkan terjadinya berbagai relasi antar budaya yang satu dengan yang lain. Berikut ini akan dijelaskan pengertian dari akulturasi dan relasi internakultural berdasarkan teori Psikologi Lintas Budaya.
Akulturasi
A. Pengertian Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusiadengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Atau bisa juga di definisikan sebagai perpaduan antara kebudayaan yang berbeda yang berlangsung dengan damai dan serasi.
Contoh akulturasi, saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa.
Pengertian Akulturasi Dari Para Ahli:
1. Koentjaraningrat (1996:155)
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
2. Garbarino
"Acculturation (is) the process of culture change as a result of long term, face to face contact between two societies" (Garbarino, 1983).
“Akulturasi (adalah) proses perubahan budaya sebagai akibat jangka panjang, tatap muka kontak antara dua masyarakat "(Garbarino, 1983).
3. Robert E.Park dan Ernest W.Burgess (1921:735)
Comprehends those phenomena which result when groups of individuals having different culture comes into continous first hand contact, with subsequent changes in the original cultural patterns of either or both groups".
“Memahami fenomena yang terjadi ketika kelompok individu yang memiliki budaya yang berbeda datang ke dalam kelompok lain, dengan perubahan berikutnya dalam pola-pola budaya asli dari salah satu atau kedua kelompok ".
4. Arnold M.Rose (1957:557-558)
“The adoption by a person or group of the culture of another social group."
"Adopsi oleh orang atau kelompok dari kelompok social budaya lain "
5. Redfield, Linton, Herskovits
Akulturasi meliputi fenomena yang timbul sebagai hasil, jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu, dan mengadakan kontak secara terus menerus, yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya.
Dari definisi tersebut terlihat bahwa akulturasi adalah salah satu aspek daripada culture change dan asimilasi adalah salah satu fase dari akulturasi, sedang difusi adalah daripada akulturasi
6. Krober
Akulturasi itu meliputi perubahan didalam kebudayaan yang disebabkan oleh adanya pengaruh dari kebudayaan yang lain, yang akhirnya menghasilkan makin banyaknya persamaan pada kebudayaan itu. Menurut krober, difusi adalah salah satu aspek dari akulturasi.
7. Gillin & Gillin dalam bukunya “Culture Sosiology”
Sebagai proses dimana masyarakat-masyarakat yang berbeda-beda kebudayaannya mengalami perubahan oleh kontak yang sama dan langsung, tetapi dengan tidak sampai kepada pencampuran yang komplit dan bulat dari kedua kebudayaan itu.
C. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Timbulnya Suatu Proses Akulturasi
Faktor Internal (dalam), antara lain:
1. Bertambah atau berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)
Pertambahan penduduk yang sangat cepat menyebabkan terjadinya perubahan struktur dalam masyarakat, terutama lembaga kemasyarakatannya.
2. Penemuan-penemuan baru
a. Discovery: penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada
b. Invention : penyempurnaan penemuan baru
c. Innovation: pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada.
3. Pertentangan (konflik) masyarakat
Pertentangan atau konflik merupakan salah satu sebab terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan.
4. Terjadinya pemberontakan atau revolusi
Adanya revolusi atau pemberontakan dalam suatu negara akan menimbulkan perubahan.
Faktor Ekstern (luar), antara lain:
1. Lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia
Terjadinya bencana alam, seperti gempa bumi, meletusnya gunung berapi, banjir besar, angin topan, dan semacamnya mengakibatkan masyarakat harus meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke tempat tinggal yang baru
2. Peperangan
Peperangan dengan negara lain dapat pula mengakibatkan terjadinya perubahan karena biasanya negara yang menang dalam peperangan akan memaksakan kebijakannya terhadap negara yang kalah.
3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain
Melalui difusi (penyebaran kebudayaan), akulturasi (pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi) dapat mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan.
INTERNAKULTURAL
A. Pengertian Internakultural
Internakultural (komunikasi antarbudaya) menurut Stewart L. Tubbs, adalahkomunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (baik dalam ras, etnik, atau sosioekonomi) atau gabungan dari semua perbedaan ini. Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.
Hamid Mowlana menyebutkan internakultural sebagai human flow across national boundaries. Misalnya, dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan internakultural sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.
Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa internakultural adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok.
Selanjutnyainternakultural itu dilakukan:
1. Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan.
2. Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung dari persetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama;
3. Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita;
4. Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan pelbagai cara.
B. Fungsi-Fungsi Internakultural
1. Fungsi Pribadi, adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu.
a. Menyatakan identitas sosial
Dalam proses internakultural terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan melalui tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal-usul suku bangsa, agama, maupun tingkat pendidikan seseorang.
b. Menyatakan integrasi sosial
Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi, antarkelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur..
c. Menambah pengetahuan
Seringkali komunikasi antarpribadi maupun antarbudaya menambah pengetahuan bersama, saling mempelajari kebudayaan masing-masing.
d. Melepaskan Diri atau Jalan Keluar
Kadang-kadang kita berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau mencri jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi.
2. Fungsi Sosial
a. Pengawasan
Praktek internakultural di antara komunikator dan komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses internakultural fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan "perkembangan" tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa.
b. Menjembatani
Dalam proses internakultural, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama.
c. Sosialisasi nilai
Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.
d. Menghibur
Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses internakultural. Misalnya menonton tarian hula-hula dan "Hawaian" di taman kota yang terletak di depanHonolulu Zaw, Honolulu, Hawai. Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan antarbudaya.
C. Prinsip-Prinsip Internakultural
1. Relativitas bahasa
Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang tahun 1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa memengaruhi proses kognitifkita. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal karakteristiksemantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.
2. Bahasa sebagai cermin budaya
Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal.
3. Mengurangi ketidakpastian
Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidakpastian dan ambiguitas dalam komunikasi.
4. Kesadaran diri dan perbedaan antarbudaya
Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif.
5. Interaksi awal dan perbedaan antarbudaya
Perbedaan antarbudaya terutama penting dalam interaksi awal dan secara berangsur berkurang tingkat kepentingannya ketika hubungan menjadi lebih akrab. Walaupun kita selalu menghadapi kemungkinan salah persepsi dan salah menilai orang lain, kemungkinan ini khususnya besar dalam situasi komunikasi antarbudaya.
6. Memaksimalkan hasil interaksi
Dalam internakultural seperti dalam semua komunikasi, kita berusaha memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekuensi yang dibahas oleh Sunnafrank (1989), pertama mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya.
Kedua, bila kita mendapatkan hasil yang positif, kita terus melibatkan diri dan meningkatkan komunikasi kita. Bila kita memperoleh hasil negatif, kita mulai menarik diri dan mengurangi komunikasi.
Ketiga, kita mebuat prediksi tentang mana perilaku kita yang akan menghasilkan hasil positif.
Sumber:
Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Ed. Baru – 41. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2001. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta:
PT Gelora Aksara Pratama.
http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi
http://nadiarahma10.blogspot.com/2012/10/akulturasi-dan-relasi-internakultural.html
3PA01/14510946
Psikologi Lintas Budaya
Kata atau istilah akulturasi sangat identik dengan kebudayaan. Proses akulturasi akan menyebabkan terjadinya berbagai relasi antar budaya yang satu dengan yang lain. Berikut ini akan dijelaskan pengertian dari akulturasi dan relasi internakultural berdasarkan teori Psikologi Lintas Budaya.
Akulturasi
A. Pengertian Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusiadengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Atau bisa juga di definisikan sebagai perpaduan antara kebudayaan yang berbeda yang berlangsung dengan damai dan serasi.
Contoh akulturasi, saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa.
Pengertian Akulturasi Dari Para Ahli:
1. Koentjaraningrat (1996:155)
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
2. Garbarino
"Acculturation (is) the process of culture change as a result of long term, face to face contact between two societies" (Garbarino, 1983).
“Akulturasi (adalah) proses perubahan budaya sebagai akibat jangka panjang, tatap muka kontak antara dua masyarakat "(Garbarino, 1983).
3. Robert E.Park dan Ernest W.Burgess (1921:735)
Comprehends those phenomena which result when groups of individuals having different culture comes into continous first hand contact, with subsequent changes in the original cultural patterns of either or both groups".
“Memahami fenomena yang terjadi ketika kelompok individu yang memiliki budaya yang berbeda datang ke dalam kelompok lain, dengan perubahan berikutnya dalam pola-pola budaya asli dari salah satu atau kedua kelompok ".
4. Arnold M.Rose (1957:557-558)
“The adoption by a person or group of the culture of another social group."
"Adopsi oleh orang atau kelompok dari kelompok social budaya lain "
5. Redfield, Linton, Herskovits
Akulturasi meliputi fenomena yang timbul sebagai hasil, jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu, dan mengadakan kontak secara terus menerus, yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya.
Dari definisi tersebut terlihat bahwa akulturasi adalah salah satu aspek daripada culture change dan asimilasi adalah salah satu fase dari akulturasi, sedang difusi adalah daripada akulturasi
6. Krober
Akulturasi itu meliputi perubahan didalam kebudayaan yang disebabkan oleh adanya pengaruh dari kebudayaan yang lain, yang akhirnya menghasilkan makin banyaknya persamaan pada kebudayaan itu. Menurut krober, difusi adalah salah satu aspek dari akulturasi.
7. Gillin & Gillin dalam bukunya “Culture Sosiology”
Sebagai proses dimana masyarakat-masyarakat yang berbeda-beda kebudayaannya mengalami perubahan oleh kontak yang sama dan langsung, tetapi dengan tidak sampai kepada pencampuran yang komplit dan bulat dari kedua kebudayaan itu.
C. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Timbulnya Suatu Proses Akulturasi
Faktor Internal (dalam), antara lain:
1. Bertambah atau berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)
Pertambahan penduduk yang sangat cepat menyebabkan terjadinya perubahan struktur dalam masyarakat, terutama lembaga kemasyarakatannya.
2. Penemuan-penemuan baru
a. Discovery: penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada
b. Invention : penyempurnaan penemuan baru
c. Innovation: pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada.
3. Pertentangan (konflik) masyarakat
Pertentangan atau konflik merupakan salah satu sebab terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan.
4. Terjadinya pemberontakan atau revolusi
Adanya revolusi atau pemberontakan dalam suatu negara akan menimbulkan perubahan.
Faktor Ekstern (luar), antara lain:
1. Lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia
Terjadinya bencana alam, seperti gempa bumi, meletusnya gunung berapi, banjir besar, angin topan, dan semacamnya mengakibatkan masyarakat harus meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke tempat tinggal yang baru
2. Peperangan
Peperangan dengan negara lain dapat pula mengakibatkan terjadinya perubahan karena biasanya negara yang menang dalam peperangan akan memaksakan kebijakannya terhadap negara yang kalah.
3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain
Melalui difusi (penyebaran kebudayaan), akulturasi (pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi) dapat mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan.
INTERNAKULTURAL
A. Pengertian Internakultural
Internakultural (komunikasi antarbudaya) menurut Stewart L. Tubbs, adalahkomunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (baik dalam ras, etnik, atau sosioekonomi) atau gabungan dari semua perbedaan ini. Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.
Hamid Mowlana menyebutkan internakultural sebagai human flow across national boundaries. Misalnya, dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan internakultural sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.
Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa internakultural adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok.
Selanjutnyainternakultural itu dilakukan:
1. Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan.
2. Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung dari persetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama;
3. Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita;
4. Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan pelbagai cara.
B. Fungsi-Fungsi Internakultural
1. Fungsi Pribadi, adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui perilaku komunikasi yang bersumber dari seorang individu.
a. Menyatakan identitas sosial
Dalam proses internakultural terdapat beberapa perilaku komunikasi individu yang digunakan untuk menyatakan identitas sosial. Perilaku itu dinyatakan melalui tindakan berbahasa baik secara verbal dan nonverbal. Dari perilaku berbahasa itulah dapat diketahui identitas diri maupun sosial, misalnya dapat diketahui asal-usul suku bangsa, agama, maupun tingkat pendidikan seseorang.
b. Menyatakan integrasi sosial
Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antarpribadi, antarkelompok namun tetap mengakui perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur..
c. Menambah pengetahuan
Seringkali komunikasi antarpribadi maupun antarbudaya menambah pengetahuan bersama, saling mempelajari kebudayaan masing-masing.
d. Melepaskan Diri atau Jalan Keluar
Kadang-kadang kita berkomunikasi dengan orang lain untuk melepaskan diri atau mencri jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi.
2. Fungsi Sosial
a. Pengawasan
Praktek internakultural di antara komunikator dan komunikan yang berbada kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses internakultural fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan "perkembangan" tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa.
b. Menjembatani
Dalam proses internakultural, maka fungsi komunikasi yang dilakukan antara dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan di antara mereka. Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan, keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama.
c. Sosialisasi nilai
Fungsi sosialisasi merupakan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat kepada masyarakat lain.
d. Menghibur
Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses internakultural. Misalnya menonton tarian hula-hula dan "Hawaian" di taman kota yang terletak di depanHonolulu Zaw, Honolulu, Hawai. Hiburan tersebut termasuk dalam kategori hiburan antarbudaya.
C. Prinsip-Prinsip Internakultural
1. Relativitas bahasa
Pada akhir tahun 1920-an dan disepanjang tahun 1930-an, dirumuskan bahwa karakteristik bahasa memengaruhi proses kognitifkita. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda dalam hal karakteristiksemantik dan strukturnya, tampaknya masuk akal untuk mengatakan bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.
2. Bahasa sebagai cermin budaya
Bahasa mencerminkan budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal.
3. Mengurangi ketidakpastian
Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidakpastian dan ambiguitas dalam komunikasi.
4. Kesadaran diri dan perbedaan antarbudaya
Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan selama komunikasi. Ini mempunyai konsekuensi positif dan negatif.
5. Interaksi awal dan perbedaan antarbudaya
Perbedaan antarbudaya terutama penting dalam interaksi awal dan secara berangsur berkurang tingkat kepentingannya ketika hubungan menjadi lebih akrab. Walaupun kita selalu menghadapi kemungkinan salah persepsi dan salah menilai orang lain, kemungkinan ini khususnya besar dalam situasi komunikasi antarbudaya.
6. Memaksimalkan hasil interaksi
Dalam internakultural seperti dalam semua komunikasi, kita berusaha memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekuensi yang dibahas oleh Sunnafrank (1989), pertama mengisyaratkan implikasi yang penting bagi komunikasi antarbudaya.
Kedua, bila kita mendapatkan hasil yang positif, kita terus melibatkan diri dan meningkatkan komunikasi kita. Bila kita memperoleh hasil negatif, kita mulai menarik diri dan mengurangi komunikasi.
Ketiga, kita mebuat prediksi tentang mana perilaku kita yang akan menghasilkan hasil positif.
Sumber:
Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Ed. Baru – 41. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2001. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta:
PT Gelora Aksara Pratama.
http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi
http://nadiarahma10.blogspot.com/2012/10/akulturasi-dan-relasi-internakultural.html
Langganan:
Postingan (Atom)