Rabu, 23 Februari 2011

PENGARUH KEMISKINAN SECARA PSIKOLOGIS


A. Pengertian Kemiskinan


Secara harfiah, kemiskinan berasal dari kata dasar miskin yang artinya tidak berharta-benda (Poerwadarminta, 1976). Dalam pengertian yang lebih luas, kemiskinan dapat diartikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan baik secara individu, keluarga, maupun kelompok untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup (sandang, pangan, dan papan), sehingga kondisi ini rentan terhadap timbulnya permasalahan sosial yang lain. Kemiskinan dipandang sebagai kondisi dimana individu atau kelompok yang tidak dapat memenuhi hak-hak dasarnya secara layak untuk menempuh dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Dengan demikian, kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidak mampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan pemenuhan hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang, dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Pada saat seseorang atau kelompok tidak dihargai oleh orang lain, dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak, akan menimbulkan gejolak dalam bathin orang yang mengalaminya.
Pada umunya kemiskinan akan menjadi sebuah budaya yang turun menurun dalam suatu keluarga atau kelompok. Karena orang miskin tidak dapat mengakses pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memerlukan biaya untuk mendapatkanya , sehingga pada saat mereka bekerja, mereka tidak akan memiliki kemampuan untuk bersaing dalam dunia kerja, dengan orang – orang yang berpendidikan tinggi, dan akhirnya orang – orang miskin akan menempati pekerjaan – pekerjaan yang rendah pula. Misalnya : Cleaning servis. Upah yang mereka dapatkan pun sangat minim. Bahkan banyak orang miskin yang tidak bekerja alias pengannguran.
Biasanya orang miskin akan menikah dengan orang miskin juga, sehingga anak yang mereka dapatkan dari hasil pernikahanya akan memiliki pendidikan yang sama rendahnya dengan orang tua mereka, sehingga keadaan seperti ini terus berlanjut sampai generasi berikutnya.

B. Kondisi psikologis orang miskin

Orang – orang yang berpenghasilan rendah atau orang miskin merasa kurang bahagia, bahkan ada yang mengalami gangguan mental seperti depresi, gangguan kepribadian. Seperti yang dialami oleh obyek yang penulis teliti, Bapak tua itu mengatakan, Dia telah putus asa dengan keadaannya hidupnya sekarang. Bapak tua itu mengatakan akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan kedua anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari, bapak tersebut menjadi pengamen, pengemis, dan pemulung disekitar Pancoran dan sampai ke Blok M. Kedua anaknyapun melakukan hal yang sama dengan Bapak tersebut. Pengahasilan mereka hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan seadanya. Jangankan untuk mengakses pendidikan yang berkualitas atau kesehatan yang super mahal, menyewa kamar untuk tempat mereka berteduh saja, Bapak itu tidak mampu. Mereka hanya tinggal di jalanan, tidur di jalanan, di bawah pohon atau di emperan toko. Menghadapi keadaan yang sangat sulit seperti ini, sering terpikir di hati Bapak itu untuk mencuri, atau merampok, bahkan yang fatal Dia pernah berkeinginan untuk mengajak kedua puteranya bunuh diri. Beruntung karena alasan pribadi, niat untuk bunuh diri diurungkannya. Akan tetapi Bapak tua itu mengaku beberapa waktu lalu, karena anaknya sakit, Dia tidak dapat melakukan rutinnitasnya sehari – hari, akibatnya sampai malam hari merekapun kelaparan. Dan keesokan harinya Bapak tersebut nekat, mencuri dompet dari seorang penumpang angkot. Isi dompet tersebut berkisar Rp 15.000. Meskipun Bapak tersebut menyadari bahwa perbuatan itu adalah perbuatan yang salah, tetapi Beliau tetap nekat melakukanya karena kebutuhan yang sangat mendesak.
Rata – rata penghasilan bapak tersebut dalam sehari Rp. 25.000. Penghasilan tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak di sehari – hari bapak tua itu dan kedua anaknya. Kedua anak itu terlihat sangat kumuh dan bandel. Lingkungan hidup di jalanan dan kemiskinanlah yang mempengaruhi karter anak tersebut, sehingga tumbuh menjadi anak yang berkepribadian keras.
Kesedihan dan setress karena tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup kedua anaknya, selalu dirasakan oleh bapak tua itu. Dengan demikian, berdasarkan uraian – uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kemiskinan sangat erat kaitannya dengan gangguan psikologis seseorang.

C. Hubungan kriminalitas dengan kemiskinan

Kemiskinan secara materi memang kerap menjadi salah satu alasan atau pemicu terjadinya kriminalitas. Namun, tidak dapat di pungkiri masih banyak faktor – faktor lain yang menyebabkan terjadinya kriminalitas, antara lain : kurangnya keasadaran dalam hukum dan lain – lain. Orang miskin di kota – kota besar biasanya tidak memiliki rumah yang layak atau hanya menempati tempat umum sebagai tempat tinggal mereka, misalnya : kolong jembatan, emperan toko, jalan raya dan lain – lain. Seperti yang dialami oleh Bapak tua beserta kedua anaknya yang penulis teliti. Mereka tinggal di bawah pohon besar atau kadang di emperan toko. Kondisi lingkungan tempat tinggal yang tidak mendukung dan tidak bersih seperti ini, menyebabkan kesehatan mereka sering terganggu atau mereka rentan terhadap penyakit dan apabila mereka terkena penyakit, mereka tidak akan mampu untuk berobat ke Dokter. Tinggal ditempat seperti itu juga mengakibatkan mereka sering manjadi pelaku dan atau korban dari tindak krimalitas.

1. Pelaku Kriminalitas

Karena tuntutan kebutuhan hidup yang tinggi dan ditambah pula dengan tidak memiliki kemampuan (pendidikan dan keterampilan) untuk bersaing mendapatkan pekerjaan yang layak dalam dunia kerja, menyebabkan sebagian diantara mereka melakukan kejahatan untuk memenuhi kebutuhan dan keberlangsungan hidup tersebut. Misalnya mencuri, merampok dan menipu.

2. Korban Kriminalitas

Tinggal dijalanan meskipun saat malam hari, menyebabkan mereka sering menjadi korban kriminalitas, seperti dirampok, diperas, diperkosa, dan lain – lain. Apabila kejahatan terjadi pada dirinya, seringkali mereka tidak berdaya untuk melawan karena fisik yang lemah akibat asupan gisi makanan yang tidak seimbang serta merekapun tidak berdaya karena mereka tidak memiliki perlindungan yang cukup dari daerah yang mereka huni. Sehingga apabila mereka mengalaminya, mereka tidak memiliki keberanian untuk melaporkannya kepada pihak yang berwenang.

D. Pemecahan Masalah Kemisikinan : Pendekatan Psikologi Sosial

Pada umumnya orang miskin atau kemiskinan dipandang berprilaku lebih ke sisi negatif, yaitu : kotor, kumuh, malas, tidak disiplin, sulit diajak berubah, tidak mau berusaha lebih keras, suka jalan pintas, tidak menghargai waktu, dan hanya beroreintasi untuk masa kini. Maka, jika pemecahan masalah kemiskinan dihubungkan dengan pendekatan psikologis sosial dapat diartikan untuk mengubah kemiskinan kita harus dapat mengubah pola pikir (mind-set) orang miskin, namun bukan hanya pola pikir orang miskin yang harus di ubah, sebab kemiskinan terjadi bukan semata – mata hanya karena faktor individu dan kemiskinan bukan permasalahan yang berdiri sendiri, maka diperlukan pula perubahan pada pola pikir kultural dan pola pikir struktural.

1. Mind – set Individu Orang Miskin

Untuk dapat mengubah mind-set orang miskin, harus terlebih dahulu mengetahui psikologis orang miskin. Disimpulkan dari uraian – uraian diatas penulis mengenai obyek yang di teliti, orang miskin merupakan orang yang sulit untuk mengakses layanan umum, seperti kesehatan, pendidikan, tempat tinggal bersubsidi dan lain – lain. Dalam dunia sosial orang miskin memiliki posisi tawar yang rendah, sehingga mereka tidak dapat berperan aktif dalam keputusan atau kebijakan mengenai kelangsungan hidup mereka di Lembaga Negara. Hal ini diikuti pula oleh sikap orang miskin yang pasif dan acuh tak acuh terhadap lingkungan disekitarnya. Sehingga menyebabkan orang miskin tetap berada dalam kondisi miskin. Menurut Ortigas (2000), hal diatas disebut dengan lingkaran kemiskinan, dan untuk dapat mengubah mind-set orang miskin, lingkaran kemiskinan ini harus di hentikan atau di potong agar orang miskin tidak selamanya terjerat dalam kondisi miskin. Oleh sebab itu orang miskin harus diberikan bimbingan psikologis agar meraka dapat meyakini dan menanamkan dalam pikiran mereka, bahwa mereka adalah orang yang memiliki kemampuan dan keterampilan tertentu, mau berjuang/berusaha lebih keras, yang pada akhirnya akan membawa mereka dalam kehidupan yang lebih baik. Tentu hal tersebut dapat berjalan dengan baik, harus dibarengi dengan akhlak yang mulia. Apabila orang miskin telah meyakini memiliki keterampilan dan kemampuan, maka akan menumbuhkan rasa percaya diri dan memiliki harga diri yang pantas untuk bersaing secara sehat dalam dunia kerja. Sehingga pada saat orang miskin berada dalam kondisi yang sulit, diharapkan mereka akan mampu menghadapinya dan tidak mudah menyerah atau putus asa.

2. Mind – set Kultural

Kemiskinan sering kali telah menjadi budaya yang turun menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga harus dilakukan juga perubahan mind-set kultural. Kemiskinan yang dialami oleh Bapak tua yang diteliti oleh penulis, telah dialami sebelumnya oleh orang tuanya dan kini menimpa dirinya serta menimpa anak-anaknya. Keadaan tersebut menggambarkan betapa budaya kemiskinan telah menjerat keluarga Bapak tersebut. Sehingga apabila keturunannya tidak bersekolah, Bapak tersebut mengganggap, itu merupakan hal yang wajar saja kearena mereka adalah orang miskin,. Mereka lebih memilih bekerja mengumpulkan uang daripada sekolah membutuhkan biaya yang banyak. Sehingga kedua anaknyapun berpikiran yang sama dengan ayah mereka. Dengan demikian keseharian mereka tidak pernah berusaha menabung untuk biaya sekolah, ataupun biaya membuka usaha kecil – kecilan untuk di kehidupan yang lebih baik di masa depan.. Maka kehidupan mereka akan terus seperti itu, ketika mereka berkeluarga, anak yang dihasilkan akan memiliki taraf kehidupan yang sama dengan kedua orang tuanya.
Ini merupakan persoalan yang harus dipecahkan, orang miskin berpendidikan dan berpenghasilan rendah hidup dalam kultur yang seperti itu, maka budaya hidup mereka harus diubah dengan kultur kehidupan keluarga yang lebih bermartabat. Sejak dini, Pemerintah harus memperhatikan anak – anak dari kalangan miskin, dengan memberikan mereka bantuan sekolah gratis yang tepat sasaran dan bantuan moril dan materi agar mereka dapat membuka usaha dalam sekala kecil, lagi – lagi sejak dini harus harus ditumbuhkan keinginan dan keyakinan bahwa mereka dapat hidup lebih baik. Sehingga mereka akan berusaha untuk hidup lebih baik. Setidaknya untuk masa depan anak – anak mereka kelak.


3. Mind – set Struktural

Kita sebagai mahluk sosial ataupun Pemerintah, tidak bisa berasumsi bahwa orang miskin tersebut terjerat dalam kondisi seperti itu, semata – mata karena mereka adalah orang – orang yang malas, tidak disiplin, tidak mau berusaha lebih keras, berorientasi hanya untuk masa kini, dan lain – lain seperti yang telah disebutkan diatas. Tetapi kemiskinan juga terjadi karena struktur dalam masyarakat yang menyebabkan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin menderita. Misalnya pembangunan pasar modern yang tersebar dimana – mana, membuat pasar tradisional, warung – warung kecil sepi pembeli bahkan mati, akan menyebabkan orang kaya mendapat keuntungan yang berlimpah dan sebaliknya dengan orang miskin. Maka agar orang miskin tidak tenggelam dalam kondisi yang mempihatinkan tersebut. Mereka harus diberikan askses yang luas dan mudah terhadap pendidikan yang bermutu, kesehatan yang berkualitas, perumahan yang layak, lapangan pekerjaan yang memadai dan lain-lain, sehingga orang miskin dapat terbebas dari belenggu kemiskinan. Dan hidup yang lebih baik akan diperoleh atau dirasakan oleh mereka.

Dapat disimpulkan bahwa :

1. Kemiskinan merupakan suatu kondisi ketidakmampuan baik secara individu, keluarga, maupun kelompok untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup yaitu : sandang, pangan, dan papan, sehingga kondisi ini rentan terhadap timbulnya permasalahan sosial yang lain.
2. Permasalahan kemiskinan memberikan dampak yang sangat besar terhadap kondisi pskilogis seseorang. Kemiskinan menyebabkan seseorang menghalalkan segala cara untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
3. Kemiskinan menyebabkan seseorang rentan menjadi korban dan perilaku kriminalitas, serta orang miskin rentan terhadap penyakit.
4. Pada umunya kondisi kejiwaan orang miskin kurang bahagia karena tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.
5. Secara psikologis untuk mengubah kemiskinan diperlukan perubahan pada mind-set individu orang miskin, perubahan mind-set kultural dan perubahan mind-set struktural.


Saran

Sebaiknya Pemerintah dapat bekerjasama dengan pihak – pihak yang terkait untuk secara berkala memberikan bimbingan psikologis kepada masyarakat miskin dan memberikan akses yang mudah kepada masyarakat miskin dalam bidang pendidikan, kesehatan dan lain – lain. Sebagai warga negara yang baik, kita pula wajib ikut bersama dalam usaha pengentasan kemiskinan di Indonesia, dengan meningkatkan kepedulian dan kepekaan sosial kita untuk membantu saudara kita yang masih mengalami kemiskinan.


DAFTAR PUSTAKA

1. Mulyo, Sumedi Andono. 2005. Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan. Jakarta: Komite Penanggulangan Kemiskinan.
2. MARKUM, M. ENOCH, "Pengentasan Kemiskinan dan Pendekatan Psikologi Sosial," 1(1), 1-12, Juni 2009.
3. http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan.

Jumat, 12 November 2010

RESUME FILM AFTER SHOCK

Film yang sangat menarik dan patut anda tonton. Banyak hal dalam film ini yang berkaitan denga Psikologi Kejiwaan.

A. RESUME FILM AFTER SHOCK

Film AFTER SHOCK disutradarai oleh Feng Xiaogang, Diproduksi oleh Hua Yi Brothers, Ditulis oleh Su Xiaowei (skenario), Zhang Ling (novel), Dibintangi Xu Fan (sebagai Li Yuanni), Zhang Guoqiang (sebagai Da Qing), Zhang Jingchu (sebagai Fang Deng), Li Chen, Chen Dao Ming, Chen Jin, , Zhang Zifeng, Zhang Jiajun. Musik oleh Wang li-guang, Editing oleh Thor Roos Sinematografi Lu Yue, Studio Cina Film Group, Emperor Motion Pictures, Huayi Brothers, Media Asia Film. Durasi film selama 130 menit dari Negara Cina dan film berbahasa Bahasa Mandarin.
.
Adapun kisah dari film AFTER SHOCK tersebut :
Film drama mandarin ini dibuat berdasarkan kisah nyata, yaitu perpecahan sebuah keluarga yang disebabkan oleh gempa bumi yang terjadi di Tangshan, Cina, pada tahun 1976. Gempa bumi tersebut menewaskan 240.000 jiwa. Keluarga itu terdiri dari pasangan suami istri, Da Qing dan Li Yuan Ni, serta kedua anak kembar mereka, Fang Deng (putri) dan Fang Da (putra), yang tinggal di sebuah apartemen yang kecil di kota Tangshan. Ditengah malam saat gempat terjadi, Yuan Ni bersama suaminya, Da Qing sedang tidur di sebuah truk. Mereka sangat terkejut dan kemudian terbangun, saat gempa besar mengguncang malam itu. Yuan Ni dan suaminya berlari untuk kembali masuk ke dalam apartemen mereka untuk menyelamatkan anak-anaknya. Ketika Yuan Ni akan masuk ke dalam apartemen, Ia ditarik oleh suaminya kembali ke luar bangunan yang sedang runtuh. Dan malang, suaminya tertimpa bangunan apartemen yang ambruk. Sesudah gempa berhenti, Li Yuan Ni langsung mencari suaminya dan berhasil menemukan mayatnya tertimpa dinding bangunan. Dengan hati yang sangat sedih Li Yuan Ni pun mencari anak kembarnya dan mengetahui bahwa kedua anaknya terjebak di bawah tumpukan beton. Jika mereka mengangkat salah satu sisi dari tumpukan beton itu, maka salah dari anaknya akan terjepit dan akan membunuh salah satu dari mereka. Para penyelamat meminta Yuan Ni, memilih salah satu dari mereka untuk diselamatkan. Yuan Ni terus-terusan meminta mereka untuk menyelamat kedua anaknya. Namun, para penyelamat mendesak Yuan Ni untuk segera mengambil keputusan. Karena masih banyak korban lain yang membutuhkan pertolongan, maka para penyelamat memutuskan untuk meninggalkan Li Yuan Ni, sehingga akhirnya Yuan Ni memutuskan untuk menyelamatkan putranya. Keputusannya itu didengar oleh putrinya. Fang Deng berlinangan air mata sambil bersuara pelan memanggil ibunya terakhir kali “Mama”. Setelah putranya diselamatkan, Yuan Ni yang merasa bersalah mengangkat tubuh lemas Fang Deng dan memeluknya untuk yang terakhir kali. Mayat Fang Deng lalu ditinggalkan oleh Li Yuan Ni disamping mayat ayahnya dan mayat – mayat lainnya. Setelah Ibunya pergi, hujanpun turun dan menguyur tubuh Fang Deng dan tak disangka ternyata Fang Deng tersadar, Fang Deng masih hidup. Ia pun bangun dan kebinggungan melihat mayat ayahnya dan banyak mayat – mayat lain bergelimpangan.

Melihat Fang Deng yang sendiri kebingungan tanpa seorangpun berada di sekitarnya, Fang Deng lalu dibawa oleh salah seorang anggota tim penyelamat. Fang Deng diadopsi oleh pasangan Wang, (Chen Daoming dan Chen Jin). Dia pun berganti nama menjadi Wang Deng. Meskipun Fang Den selamat, namun Ia menderita trauma karena gempa dan karena keputusan yang diambil oleh ibunya. Saat itu Fang Deng menolak untuk bicara sehingga Ia diklaim lupa ingatan.

Sepuluh tahun kemudian, Fang Deng diterima di sekolah Kedokteran, Ia bertemu dengan seorang pria dan kemudian menjalin hubungan Intim. Pada tahun ketiga studi, ibu angkat Fang Deng jatuh sakit. Dan sebelum meningal Ibu angkat Fang Deng memintanya untuk mencari keluarga kandungnya dengan menggunakan uang yang telah mereka tabung. Namun Fang Deng tidak memberikan jawaban. Setealah Ibunya meningal Fang Deng mengetahui dirinya hamil, Meskipun pacar Fang Deng memaksanya untuk menggugurkan kandung namun Ia tetap bersikeras untuk melahirkan bayi yang dikandungnya, karena Ia tidak ingin meninggalkan bayinya seperti yang telah dilakukan Ibunya terhadap Fang Deng. Fang Deng merasa sangat malu dan kemudian tanpa sepengetahuan siapapun Ia meninggalkan sekolahnya dan kehilangan kontak dengan pacar dan ayah angkatnya.

Setelah beberapa tahun kemudian Fang Deng pun kembali dengan anaknya yang bernama Dian –Dian untuk menjenguk ayah angkatnya. Fang Deng meminta maaf karena telah meninggalkanya dalam waktu yang lama, Ia pun mengatakan yang sebenarnya bahwa Ia tidak lupa ingatan dengan keluarga kandungnya dan Ia menceritakan tentang keputusan ibunya saat Ia terjepit beton bersama saudara kembarnya.

Fang Deng menikah dengan orang yang lebih tua 16 tahun darinya dan mereka pindah ke Vancover, Kanada bersama putrinya.
Disisi lain kehidupan Ibu kandung Fang Deng, Ia tidak mau menikah lagi dan tetap tinggal di Tangshan tanpa mau melakukan perubahan apapun dalam hidupnya. Sedangkan Fang Deng telah sukses menjadi bos kaya dan menikah serta memiliki seorang putra yang bernama Dian – Dian.

Di tahun 2008 terjadi gempa di Sinchuan, atas persetujuan suaminya Fang deng pun kembali ke Cina untuk menjadi relawan dalam gempa itu. Dan pada saat itu Fang Da saudara kembar lelakinya juga menjadi relawan dalam gempa itu. Dan terjadilah pertemuan yang tak disengaja. Saat itu para relawan sedang berisrtirahat. Fang Deng mendengar Fang Da sedang bercerita kepada temannya tentang pengalaman masa lalunya tentang gempa tahun 1976 di Tangshan. Fang Da mengalami patah lengan kiri saat gempa itu. Fang Deng menyadari bahwa pria itu adalah saudara kembarnya. Kemudian mereka berdua memutuskan untuk mengunjungi Ibunya. Reaksi pertama Fang Deng saat bertemu dengan ibunya, Ia masih merasa marah terhadap keputusan ibunya yang memilih menyelamatkan Fang Da, kakanya. Ia berfikir kalau ibunya lebih mencintai Fang Da dari pada dirinya. Kemudian mereka pergi mengunjungi makam ayahnya, disana juga terdapat makam yang bertuliskan namanya. Disini Fang Deng menyadari meskipun dia dikira telah "mati", ibunya tetap memperhatikan Ia sama seperti memperhatikan Fang Da, ibunya membeli 2 set semua buku - buku sekolah, 1 untuk Fang Da dan 1 untuk dirinya. Fang Deng pun merasa sangat menyesal, karena berprasangka yang buruk terhadap ibunya dan membiarkan ibunya menghadapi penderitaan emosional dan rasa bersalah dalam waktu yang lama, selama 32 tahun dan akhirnya mereka saling memaafkan. Keluarga yang telah terpisah selama 32 tahun kini telah bertemu kembali.


B. PENDAPAT PRIBADI MENGENAI FILM TERSEBUT

Menurut saya Film tersebut sangat menyentuh hati, bisa membuat penonton menangis. Dan kisah – kisah yang terjadi di film tersebut dapat mengingatkan pada bencana – bencana alam yang terjadi di Tanah Air. Bagaimana sulitnya menjalani hidup dan menghilanggka trauma masa lalu setelah menghadapi bencana alam dan kehilangan orang – orang yang kita sayangi.

Seperti yang terjadi pada Fang Deng meskipun kejadiannya telah berlalu sangat lama, tapi trauma masa kecilnya sesalu terbayang dan tidak bisa dilupakan. Sehingga menghantui perasaannya secara terus menerus. Meskipun Ia telah memperoleh kasih sayang dari keluarga yang baru. Begitupun rasa bersalah yang dirasakan oleh Ibunya, karena merasa hanya bisa menyelamatkan satu orang anaknya dan harus mengorbankan anak yang lainnya. Ia pun tak mau menikah lagi, karena ingin selamanya menjadi istri dari suaminya yang telah meninggal, suami yang rela mengorbankan nyawanya demi dirinya.

Film ini mencerminkan, betapa besarnya pengaruh masa lalu terhadap prilaku dan mental seseorang.

Senin, 08 November 2010

TEORI MEMORY

Memory adalah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi. Adapun teori –tentang tiga proses memory oleh Walgito yaitu :

1. Proses Enconding, adalah pengkodean terhadap apa yang dipersepsi dengan cara mengubah menjadi simbol – simbol atau gelombang tertentu yang sesuai dengan peringkat yang ada pada organisme.
2. Proses Storage, adalah penyimpanan terhadap apa yang telah diproses dalam Enconding.
3. Proses Retrieval, adalah pemulihan kembali atau mengingat kembali apa yang telah disimpan sebelumnya.

Contoh kasus dari tiga proses diatas adalah :
1. Ketika masih sekolah di SMP, saya mempunyai banyak teman, yang berarti ada banyak nama yang saya ketahui dari teman – teman tersebut. Saya mengingat nama mereka dengan mengenali ciri fisik dan sifat yang menonjol dari masing – masing karakter (terjadi proses Enconding). Kemudian sejak saat itu saya mulai menyimpanya dalam memory otak . Misalnya anak yang bernama Yanti, Dia cantik dan pintar, Heri, Dia tampan tapi pemalas, Nyoman, Dia anak yang aktif dalam pelajaran, Anton sering tidur dikelas, dan lain – lain (berlangsung proses Storage). Setelah lulus sekian lama dan kami pun tidak pernah bertemu, karena kangen, Sayapun berkomunikasi dengan salah satu dari mereka, lewat telepon. Disini saya dan teman saya, menceritakan beberapa hal tentang teman – teman di masa – masa SMP dulu, sesuai yang saya ingat. Misalnya: Si Yanti yang dulu cantik dan pintar itu, sekarang kuliah dimana?, Si Anton yang pernah di tegur oleh Bu guru karena ketiduran di kelas sekarang apa kabar?, “Eh si Tampan Heri sekarang pernah nanyain kamu lho” Dan lain – lain (disini terjadi proses pemulihan ingatan atau Retrival).


2. Saat Saya akan berangkat ke Pura, di rumah Saya melihat Devi (keponakan Saya) yang saat itu mengalami demam sedang tidur pulas (terjadi proses Enconding), kemudian sambil berjalan tanpa sengaja saya mengingat Devi sedang tidur di kamarnya, badanya panas, flu, kepalanya pusing, dan Devi memakai baju tidur warna putih( terjadi proses Storage). Ketika sampai di Pura dan bertemu dengan Ibunya Devi, Ibunya pun menanyakan, “Bagaimana keadaan Devi saat kamu berangkat tadi?”. Saya pun menjawab dan menceritakan Keadaan Devi sesuai apa yang telah saya lihat dan yang yang saya ingat (proses Retrival).

Sedikit ulasan tentang buku yang dapat memberikan inspirasi :

Buku Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dollar Ulasan Tentang Jurnal Economics halaman 206.

Halaman ini menceritakan tentang diskusi antaran Penulis dan Host yang mengambil tema tentang pengalaman mereka berkunjung ke India, dimana diskusi lebih difokuskan kepada psikologi masyarakat miskin India. Salah satu kutipan yang menarik adalah :

“Ya begitulah India, tidak ada orang – orang sebahagia orang miskin di India.”

Kutipan tersebut dikemukakan oleh Host yang bernama Aurilie, orang Itali yang pernah tinggal di India selama dua tahun dan menjadi sukarelawan LSM untuk mengurus penderita lepra.
Apabila kita cermati orang – orang miskin pada umumnya memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah karena sulitnya memenuhi kebutuhan hidup yang sangat kompleks, akan tetapi Aurilie di atas mengemukakan orang miskin di India dapat hidup bahagia meskipun tidak memiliki materi yang cukup. Seperti seorang Ibu dari kalangan miskin yang pernah di urus oleh Aurilie, Ibu tersebut tidak pernah menunjukan atau mengeluh kepada anaknya, atas rasa sakit karena penyakit yang dideritanya. Ibu tersebut selalu berusaha menyembunyikan hal yang sebenarnya, meskipun rasa sakit tak dapat terbendung tetapi Dia berusaha tetap terlihat bahagia di depan anaknya. Hal ini sesuai dengan teori kepribadian menurut Sigmund Freud tentang pentingnya motivasi unconscious. Ibu tersebut dapat bertahan dari rasa sakit ketika bertemu dengan anaknya, karena adanya motivasi dari alam bawah sadarnya yaitu dia tidak ingin membuat anaknya khawatir dengan keadaanya. Motivasi ini membuat ibu tersebut tetap terlihat bahagia.
Adapun masalah social yang ditimbulkan akibat kemiskinan , seperti dalam kutipan halaman 206 berikut :
“Sebagai orang Eropa, kami mempunyai segalanya disini. Tapi seolah semuanya itu tidak cukup! Sehingga kemudian aku hanya dapat berjanji, bahwa aku akan membagi kecukupanku ini, aku akan memperjuangkan nasib mereka! Aku akan berkarir dibidang development, karena sang Ibu tidak harus meninggal, jika Ia bisa mendapatkan pengobatan yang layak. Tidak ada manusia yang layak bernasib demikian”.


Bagian ini di fokuskan pada, masalah yang timbul karena kemiskinan.
Bukan hanya di Negara India tetapi masalah kemiskinan merupakan salah satu masalah besar dunia dan tidak terkecuali Indonesia. Sang Ibu dalam kutipan cerita diatas, beliu tidak bisa mendapatkan pengobatan yang layak karena tidak memiliki uang yang cukup untuk berobat.

Masalah - masalah sosial yang di timbulkan oleh kemiskinan Diantaranya :
1. Partisipasi dan kualitas diri orang miskin
Anak – anak dari kalangan miskin akan sulit untuk memperoleh pendidikan yang bermutu serta kemungkinan besar akan mengalami putus sekolah karena terbentur biaya. Ini mengakibatkan mereka akan sulit bersaing dalam dunia kerja, sehingga anak - anak miskin yang mempunyai prestasi rendah akan menempati jabatan atau pekerjaan yang rendah pula pada saat memasuki dunia kerja, akibatnya upah yang dihasilkan sangat minim. Bahkan banyak yang menjadi pengganguran. Pada umumnya kondisi ini akan berlanjut pada saat mereka menikah dan memiliki anak. Karena minimnya penghasilan, anak – anak mereka juga akan mendapatkan kualitas pendidikan yang sama dengan orang tuanya. Dan mereka akan berada pada taraf kehidupan yang sama. Ditambah lagi dengan sikap mereka yang acuh/tidak peduli dengan lingkungan sekitar, malas, menyebabkan kemiskinan ini akan terus terjadi pada generasi – generasi berikutnya dan menjadi sebuah budaya.

2. Tidak memiliki tempat tinggal yang layak dan kriminalitas
Kondisi lingkungan dan rumah yang tidak mendukung dan tidak bersih menyebabkan kesehatan mereka (orang miskin) menjadi sering terganggu. Banyak orang miskin tinggal dilingkungan kumuh, satu rumah di huni oleh beberapa keluarga, bahkan ada yang tidak memiliki rumah. Seperti kita lihat di kota – kota besar seperti : Jakarta. Orang – orang miskin ada yang tinggal dikolong - kolong jembatan, gang – sempit di kompleks pertokoan. Kondisi ini membuat mereka rentan terhadap penyakit dan apabila mereka terkena penyakit, mereka tidak akan bisa pergi ke Dokter. Tinggal ditempat seperti itu juga mengakibatkan mereka sering manjadi pelaku dan atau korban dari tindak krimalitas. Karena tuntutan kebetuhan hidup yang tinggi menyebab sebagian diantara mereka melakukan kejahatan untuk memenuhi kebutuhan hidup tersebut. Misalnya mencuri dan merampok.

3. Kondisi mental atau kejiwaan.
Pada umumnya tingkat kebahagian orang miskin lebih rendah, sehingga kemiskinan seringkali membuat orang depresi dan setres. Beberapa contoh kasus yang mendukung :Karena, seorang Ibu tega membunuh anak – anaknya sendiri. seseorang rela merampok, bahkan membunuh demi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini, jelas sekali menggambarkan kemiskinan mempengaruhi kondisi mental dan kejiwaan seseorang.




Buku Mestakung
Bab 6 hal 66 - 67.
Halaman ini menceritakan tentang bagaimana memotivasi alam bawah sadar kita agar dapat mencapai tujuan akhir yang kita inginkan dengan didukung oleh semesta.

“Pak Joko seorang yang saya hormati pernah bercerita bahwa jika kita menginginkan sesuatu, bayangkanlah lalu gambarkan impian tersebut di pikiran kita sedetail mungkin. Ketika kita menginginkan sesuatu atau mempunyai target tertentu, kita harus membuatnya sejelas mungkin. Harus terus mengucapkanya secara berulang – ulang agar target ini masuk ke alam bawah sadar kita. Ketika sudah di alam bawah sadar, kita akan termotivasi untuk melakukan sesuatu ”.

Kutipan tersebut sesuai dengan Teori Gestalt (Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler) Mereka menyimpulkan yaitu sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Aplikasi teori Gestalt dalam proses belajar untuk meraih sesuatu adalah perilaku bertujuan (pusposive behavior) maksudnya perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Seperti yang dikatakan Pak Joko dalam kutipan diatas apabila kita memiliki tujuan yang pasti kita harus menciptakan suasana mestakung dalam pikiran kita sehingga tertanam motivasi untuk berusaha keras melakukan hal – hal yang bermanfaat untuk mencapai tujan. Jika Motivasi bercampur emosi positif maka akan menghasilkan hasrat bekerja lebih keras untuk berhasil.
Target atau tujuan yang kita ucapkan berulang – ulang baik pada diri kita sendiri ataupun orang – orang disekitar kita akan membuat kita berada dalam kondisi kritis dan melahirkan tanggung jawab moral sehingga memacu seluruh kekuatan dan kecerdasan yang kita miliki, memacu kita untuk berlatih lebih keras untuk berhasil mencapai tujuan. Pada saat berada dalam kondisi kritis seseorang akan dapat melakukan hal – hal yang luar biasa, hal – hal yang tidak mungkin tidak biasa dilakukan pada saat dalam kondisi normal.
Namun hal ini harus diimbangi dengan ketahanan mental yang kuat agar tidak menimbulkan setress akibat tekanan dari dalam diri sendiri. Pemikiran atau mind set seseorang sangat berpengaruh pada keberhasilanya.

PROSTITUSI

PROSTITUSI

Prostitusi atau pelacuran merupakan penyimpangan social yaitu, penjual jasa seksual untuk mendapatkan uang atau sering disebut Pekerja Seks Komersial (PSK).

Sumber : Liputan6.com, Jakarta
Tanggal : 27/10/10
Lembaga pemasyarakatan (penjara) adalah tempat menjalani masa hukuman. Didalamnya banyak terdapat narapidana untuk menjalani hukuman atas criminal yang dilakukannya. Namun, seperti ditemukan oleh Polisi ditahanan khusus laki – laki terdapat transaksi prostitusi yang jelas – jelas melanggar hukum. PSK di panggil ke tahanan degan modus berpura – pura sebagai keluarga yang hendak menjenguk saudaranya yang ada dalam tahanan. Sumber menyebutkan, oleh bantuan sipir, kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh narapidana untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Saat wanita pesanan telah tiba di penjara, kemudian Narapidana membayar sewa kamar pada seorang sipir. Setelah transaksi pembayaran kamar selesai, sang napi dan perempuannya masuk kamar seharga sekitar Rp 300 hingga Rp 400 ribu. Namu, bagi narapidana yang tidak punya uang harus berpuas diri dengan cara lain. Melepas rindu mulai dari berbicara, berpegangan tangan, berpelukan, atau bahkan mencuri-curi kesempatan mencium pasangannya Dengan cara seperti inilah inilah transaksi itu terjadi.

Teori :
teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow.
Teori psikolog Abraham Maslow menempatkan seks pada level dasar. Ini artinya, pentingnya seks sejajar dengan bernapas, makan, minum, membuang kotoran, homeostasis, dan tidur. Teori dasar ini harus dipenuhi.

Seperti diatas berada di penjara tidak berarti memenjarakan kebutuhan biologis narapidana. Karena undang-undang di Indonesia belum mengakomodir kebutuhan biologis para napi, terutama yang sudah berkeluarga. Maka beragam cara dilakukan oleh para napi untuk memuaskan hasrat seksual mereka.

Minggu, 07 November 2010

DUKA YANG DI ALAMI RAKYAT AKIBAT LETUSAN GUNUNG MERAPI

Gunung Merapi Meletus 26 Oktober 2010 mengeluarkan awan panas sekitar pukul 17.02 WIB, akibatnya banyak warga yang mengalami luka bakar dan sekitar 28 orang tewas akibat terkena semburan awan panas. Setelah gempa pertama terjadi, wargapun di evakuasi turun untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Kegelisahan warga tidak berakhir sampai disitu, karena di hari – hari berikutnya merapi meletus lagi. Yaitu diantarnya pada tanggal :27 Oktober dan 28 Oktober (Gunung Merapi memuntahkan Lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB).

Untuk menjaga keselamatan para warga, selama berada di pengungsian dan status merapi belum dinyatakan aman secara resmi, petugas melarang warga untuk kembali kerumahnya, karena dikhawatirkan, merapi dapat meletus kapan saja. Warga sangat terpukul karena mereka harus kehilangan rumah, harta benda dan bahkan kehilangan sanak saudara mereka yang tewas akibat terkena lahar panas. Masyarakat sangat mengalami ketakutan psikologis, takut akan terjadi letusan yang hebat dari merapi. Dengan keadan terpaksa dan seadanya, warga pun tinggal dipengungsian, meskipun seluruh aktivitas ekonomi rakyat yang merupakan petani dan peternak lumpuh total.

IBD
14510946
Kelas 1PA04

Sabtu, 06 November 2010

BERMAIN DAPAT MELATIH KEBERBAKATAN

Dalam mengembangkan bakat yang dimiliki oleh seorang anak diperlukan cara – cara yang tepat untuk membangkitkan atau mengexplor bakat tersebut. Agar tidak menjadi bakat yang terpendam atau bisa dikatakan bakat yang tidak bermanfaat. Salah satu cara untuk mengasah bakat yang dimiliki seorang anak adalah dengan cara bermain. Bermain adalah sesuatu yang menyenangkan dan merupakan rutinitas yang selalu dilakukan oleh anak – anak. Permainan yang kreatif, ekploratif, imajinatif, dapat memberikan dampak posotif terhadap proses berpikir dan seluruh proses perkembangan mental anak.
Misalnya permainan :

1. Tebak – tebakan warna, kota, tokoh kartun dan lain - lain.
2. Melukis sesuatu yang disenangi oleh anak.
3. Main kelereng (melatih konsentrasi).
4. Main Boneka.

Permainan tersebut dapat menimbulkan rasa keingintahuan anak terhadap lingkungan dan berpengaruh melatih konsentrasi anak. Permainan akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap bakat, kepribadian, penyesuaian diri terhadap lingkungan disekitarnya. Sehinnga saat tumbuh dewasa, anak – anak yang aktif akan tumbuh menjadi dewasa yang mandiri dan kreatif, dibandingkan anak – anak yang tidak suka bermain dan selalu menyendiri.